Ulasan Seputar Kesehatan Anak

Tak Perlu Cemas, Ini Penyebab Vagina Basah

Tak Perlu Cemas, Ini Penyebab Vagina Basah

Bagi wanita, menjaga kesehatan vagina adalah salah satu hal yang penting. Sebagian dari Anda mungkin pernah mengalami vagina basah. Ketika hal ini terjadi, banyak orang yang mencemaskannya dan takut akan adanya penyakit tertentu pada vagina.

Akan tetapi, sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan kelembaban atau basah pada area vagina. Beberapa penyebab tersebut mungkin tidak berbahaya, tapi ada juga faktor penyebab yang terjadi karena adanya kondisi medis tertentu dalam tubuh Anda. 

Cairan yang Memicu Vagina Basah

Sebelum mengetahui penyebab vagina basah, Anda perlu terlebih dahulu mengetahui dari mana kelembaban pada vagina berasal. Umumnya, cairan yang membasahi vagina muncul dari kelenjar bartholin dan leher rahim atau serviks.

Kelenjar bartholin adalah kelenjar kecil berukuran kacang yang terletak di dalam vagina. Kelenjar ini berfungsi untuk melumasi vagina untuk mencegah kekeringan berlebih.

Sementara, serviks adalah leher rahim yang menghasilkan lendir selama siklus menstruasi. Saat masa ovulasi mendekat, serviks akan memproduksi semakin banyak cairan. Lendir ini juga berperan dalam membantu perjalanan sperma menuju sel telur.

Jadi, basahnya vagina Anda bukan disebabkan oleh urin. Adanya cairan dari lendir serviks adalah hal yang wajar dan akan terjadi pada setiap wanita. 

Hal-Hal yang Menyebabkan Vagina Basah

Ada beberapa hal yang membuat vagina menjadi basah, yaitu: 

  • Perubahan hormon

Perubahan hormon bisa terjadi pada wanita yang menjalankan perawatan khusus yang berhubungan dengan penggantian hormon. Secara khusus, hal ini akan dialami oleh wanita yang menjalani terapi untuk menyeimbangkan hormon.

Perawatan sejenis ini akan membuat kadar hormone estrogen dalam tubuh menjadi lebih tinggi, sehingga kelenjar bartholin memproduksi lebih banyak cairan. Cairan yang dihasilkan bisa berwarna bening dan bertekstur licin. 

  • Cairan sehari-hari

Pada dasarnya, vagina yang sehat adalah vagina yang lembab dan tidak kering. Wanita rata-rata menghasilkan sekitar 1-4 mililiter cairan vagina setiap harinya. Namun, jumlah yang dihasilkan pada setiap wanita bisa saja berbeda-beda. 

Kelenjar bartholin dan serviks akan menghasilkan cairan atau lendir dalam jumlah yang berbeda dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh siklus ovulasi. Namun, adanya cairan pada dasarnya merupakan hal yang wajar dan justru menandakan kondisi vagina yang sehat. 

  • Infeksi

Walaupun adanya cairan pada vagina adalah kondisi yang wajar, produksi cairan yang berlebih juga bisa saja disebabkan oleh adanya infeksi dalam tubuh Anda. Infeksi bisa menyebabkan rasa basah karena vagina yang basah membantu dalam mengeluarkan bakteri dari saluran vagina. 

Cairan yang keluar dari vagina saat Anda mengalami infeksi akan lebih kental dari biasa, dan berwarna putih kekuningan seperti keju. Vagina Anda mungkin juga akan terasa gatal, terbakar, dan sangat perih serta kering. 

  • Pemakaian alat kontrasepsi

Alat kontrasepsi digunakan untuk mengendalikan kehamilan. Beberapa jenis alat kontrasepsi mungkin bisa menimbulkan efek samping berupa peningkatan cairan dari vagina, menyebabkan vagina basah.

Hal ini bisa terjadi karena obat kontrasepsi mempengaruhi hormon estrogen dalam tubuh wanita. Apabila Anda merasa terganggu dengan hal ini, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mencari alternatif penggunaan alat kontrasepsi lain yang lebih sesuai dengan Anda. 

Vagina basah merupakan kondisi yang wajar dialami oleh wanita setiap harinya. Selama cairan yang dihasilkan masih dalam jumlah wajar dan tidak mengganggu, Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.

Mencari Penyebab Granuloma Annulare

Mencari Penyebab Granuloma Annulare

Berhati-hatilah karena benjolan merah yang menyerupai bengkak kecil pada kulit tidak hanya disebabkan oleh gigitan serangga. Bengkak merah yang hanya terjadi di area tertentu saja bisa jadi menunjukkan Anda sedang terkena granuloma annulare. 

Granuloma annulare merupakan penyakit kulit gejala pastinya adalah kemunculan benjolan kecil merah yang menyerupai cincin di bagian tubuh tertentu. Bengkak paling sering muncul di tangan dan kaki. Sama seperti ketika Anda digigit serangga, benjolan yang disebabkan oleh penyakit kulit ini akan terasa gatal ringan. Namun, Anda tidak akan merasakan sakit akibat benjolan tersebut. 

Gejala granuloma annulare secara spesifik sebenarnya berbeda-beda tergantung jenisnya. Ada tiga jenis penyakit kulit ini yang mesti Anda pahami untuk bisa mengenali gejalanya lebih lanjut. 

  • Localized Granuloma Annulare 

Ini merupakan jenis granuloma annulare paling umum yang kerap terjadi di kaki atau tangan. Gejala dari jenis ini adalah munculnya benjolan berbentuk lingkaran atau setengah lingkaran pada bagian tubuh yang terserang. Benjolan tersebut rata-rata berdiameter 5 sentimeter. 

  • Generalized Granuloma Annulare 

Besar benjolan yang muncul pada penderita generalized granuloma annulare tidak berbeda dengan localized granuloma annulare. Yang menjadi pembedanya hanya lokasi tempat benjolan-benjolan tersebut muncul. Pada generalized granuloma annulare, benjolan kemerahan berbentuk cincin api muncul hampir di seluruh badan. 

  • Subcutaneous Granuloma Annulare 

Jenis ini disebut juga sebagai granuloma annulare bawah kulit. Pasalnya, benjolan kecil yang menjadi gejala pennyakit kulit ini muncul di bawah kulit sehingga menyebabkan kulit menjadi keras. Benjolan yang kerap muncul di tangan hingga kulit kepala ini lebih sering menyerang anak kecil. 

Sampai saat ini para peneliti dan tim medis belum mampu mengidentifikasi secara pasti mengenai penyebab granuloma annulare. Akan tetapi, diyakini bahwa munculnya benjolan-benjolan seperti cincin api pada penderita penyakit ini merupakan hasil dari reaksi hipersensitivitas yang tertunda. Reaksi tersebut akhirnya menimbulkan peradangan di bagian kulit tertentu. 

Walaupun demikian, setidaknya sudah ditemukan beberapa risiko yang dinilai merangsang munculnya gejala granuloma annulare pada seseorang. Berikut ini adalah faktor-faktor risiko dari penyakit kulit tersebut. 

  1. Gigitan Serangga 

Gigitan serangga yang meninggalkan bekas pada kulit nyatanya merupakan pemicu dari gejala granuloma annulare. Pada beberapa orang yang sensitif, gigitan serangga tersebut akan memunculkan benjolan berbentuk cincin api yang cukup lama bertahan di kulit dan bisa kambuh sewaktu-waktu. 

  1. Keturunan 

Seseorang yang memiliki riwayat memiliki anggota keluarga yang pernah mengalami granuloma annulare lebih rentan terkena penyakit kulit ini. Pasalnya, granuloma annulare sangat berhubungan dengan faktor genetik. 

  1. Paparan Matahari 

Terlalu sering terpapar sinar matahari tanpa perlindungan ternyata juga menjadi faktor risiko granuloma annulare. Ini karena paparan matahari yang berlebihan dapat menyebabkan iritasi kulit yang bisa berlanjut ke munculnya benjolan-benjolan merah di kulit. 

  1. Cedera Kulit 

Apabila pernah mengalami cedera kulit ringan, akibat benturan atau yang lainnya, Anda akan lebih rentan terkena granuloma annulare. Ini karena cedera kulit tersebut bisa memicu infeksi yang membuat kulit meradang dan membentuk benjolan. 

  1. Vaksinasi 

Beberapa jenis vaksinasi bisa menjadi penyebab munculnya gejala granuloma annulare. Jenis vaksin yang menjadi pemicu tersebut, di antaranya vaksin tuberculosis

  1. Penggunaan Obat 

Ada jenis obat-obatan yang ternyata merangsang pertumbuhan benjolan merah di kulit. Obat-obat yang mesti Anda waspadai menyebabkan granuloma annulare, contohnya allopurinol, amlodipine, serta diklofenak. 

  1. Penyakit Tertentu 

Penyakit-penyakit yang berhubungan dengan metabolisme tubuh disinyalir memicu tumbuhnya benjolan merah berbentuk cincin api pada kulit. Jadi, apabila Anda memiliki masalah kesehatan berupa diabetes ataupun masalah tiroid, Anda mesti lebih berhati-hati akan terkena granuloma annulare. 

*** 

Tidak perlu panik berlebihan ketika gejala granuloma annulare muncul. Kebanyakan gejala bersifat ringan dan bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan. Namun apabila Anda cukup terganggu dan merasa khawatir berlebihan, tidak ada salahnya segera berkonsultasi ke dokter kulit.

Mengenal GERD, Penyakit Penyebab Sakit Ulu Hati

GERD adalah singkatan dari “gastroesophageal reflux disease” atau penyakit refluks gastroesofagus. Penyakit ini terjadi ketika asam lambung sering kembali ke kerongkongan, yang mana merupakan tabung penghubung mulut dan lambung. Refluks asam ini dapat mengiritasi lapisan kerongkongan, dan menjadi penyebab sakit ulu hati. Banyak orang menderita refluks asam dan sakit ulu hati dari waktu ke waktu. GERD ringan merupakan refluks asam yang terjadi setidaknya sekali dalam seminggu, dengan kasus yang lebih parah dapat terjadi dua kali dalam seminggu. Kebanyakan orang dapat mengatasi rasa tidak nyaman dan sakit ulu hati yang disebabkan oleh GERD dengan mengubah gaya hidup atau mengonsumsi obat-obatan OTC. Namun, dalam kasus tertentu, GERD dapat menjadi parah dan diperlukan perawatan obat resep yang lebih kuat hingga operasi untuk meringankan gejala yang ditimbulkan.

Gejala dan penyebab

Gejala umum GERD di antaranya adalah adanya sensasi terbakar di bagian dada (sakit ulu hati) setelah makan dan dapat berubah menjadi semakin buruk pada malam hari, nyeri dada, kesulitan menelan, memuntahkan makanan atau cairan asam, dan adanya sensasi benjolan di tenggorokan. GERD merupakan penyebab sakit ulu hati. Carilah bantuan medis apabila Anda menderita sakit dada, sesak napas, dan nyeri rahang atau lengan karena ada kemungkinan serangan jantung.

GERD disebabkan oleh refluks asam yang sering terjadi. Kondisi yang dapat meningkatkan risiko seseorang menderita GERD di antaranya adalah obesitas, hiatal hernia, kehamilan, gangguan jaringan penghubung (contohnya scleroderma), dan pengosongan lambung yang tertunda. Selain itu, faktor-faktor yang dapat memperburuk refluks asam adalah merokok, makan makanan dalam porisi besar pada malam hari, makan makanan pemicu seperti makanan berlemak dan gorengan, minum alkohol atau kopi, dan mengonsumsi obat seperti aspirin.

Komplikasi

Selain menjadi penyebab sakit ulu hati, peradangan kronis di kerongkongan dapat menyebabkan beberapa komplikasi kesehatan serius, seperti:

  • Penyempitan kerongkongan. Kerusakan pada bagian bawah kerongkongan akibat asam lambung dapat menyebabkan jaringan parut terbentuk. Jaringan parut tersebut akan mempersempit saluran makanan, sehingga menyebabkan gangguan menelan.
  • Luka terbuka di kerongkongan. Asam lambung dapat mengikis jaringan di kerongkongan, menyebabkan luka terbentuk. Luka tersebut akan berdarah, menyebabkan nyeri dan rasa sakit serta mempersulit aktivitas menelan makanan.
  • Perubahan pra-kanker pada kerongkongan. Kerusakan akibat asam lambung dapat menyebabkan perubahan pada lapisan jaringan di kerongkongan bagian bawah. Perubahan-perubahan ini berhubungan dengan meningkatnya risiko kanker kerongkongan.

Gaya hidup dan home remedies

Untuk mengatasi GERD penyebab sakit ulu hati, perubahan gaya hidup dan obat-obatan alami dapat membantu mengurangi frekuensi terjadinya refluks asam. Cobalah untuk menjaga berat badan yang sehat, karena berat berlebih dapat memberikan tekanan pada perut, sehingga dapat mendorong lambung ke atas dan menyebabkan refluks asam ke kerongkongan. Anda juga perlu berhenti merokok, karena merokok dapat menurunkan kemampuan sfingter esofagus untuk bekerja dengan efektif. Selain itu, Anda perlu menghindari megonsumsi makanan dan minuman yang dapat memicu refluks asam. Beberapa pemicu refluks di antaranya adalah makanan berlemak dan gorengan, saus tomat, alkohol, coklat, mint, bawang putih, bawang Bombay, dan kafein.

GERD merupakan penyebab sakit ulu hati utama. Kondisi interjadi ketika refluks asam lambung terjadi dan melukai kerongkongan. Kunjungi dokter apabila Anda mengalami gejala GERD parah, seperti batuk kronis, asma yang berubah menjadi lebih parah, gangguan tidur, sakit ulu hati parah, dan nyeri dada. Selain itu, konsultasikan dengan dokter apabila Anda mengonsumsi obat-obatan OTC untuk sakit ulu hati dua kali dalam seminggu.

Perhatikan, Kondisi Kesehatan Ini Picu Trombosit Tinggi

Semua hal yang berlebihan menjadi tidak baik, termasuk ketika Anda mengalami trombosit tinggi. Trombosit sendiri merupakan keping darah yang berfungsi membekukan darah. Ketika jumlahnya terlalu banyak di dalam tubuh, risiko penggumpalan darah bisa menimpa Anda. Ancaman berbagai penyakit kronis akibat penggumpalan darah tersebut pun akan menanti, mulai dari penyakit kardiovaskular sampai stroke. 

Wajarnya jumlah trombosit normal dalam darah berkisar 100.000—400.000 trombosit per mikroliter darah. Jika jumlah trombosit Anda lebih dari 400.000, saat itulah Anda didiagnosis mengalami trombosit tinggi. 

Banyak penyebab yang dapat membuat jumlah trombosit dalam darah melonjak. Rata-rata penyebab trombosit tinggi sendiri mengarah pada masalah kesehatan tertentu. Berikut ini adalah beberapa penyakit yang menjadi pemicu tingginya trombosit pada tubuh Anda. 

  1. Peradangan 

Ketika ada bagian tubuh Anda yang mengalami peradangan, kemungkinan jumlah trombosit melonjak dapat terjadi. Ini karena ketika terdapat radang, tubuh meresponsnya dengan mengeluarkan protein-protein kecil  bernama sitokin sebagai sinyal untuk dialirkan ke organ tubuh lainnya guna melakukan sesuatu. Pelepasan sitokin ini merangsang produksi trombosit sehingga Anda akan cenderung mengalami trombosit tinggi. 

  1. Anemia Hemolitik

Anemia hemolitik umumnya dialami oleh orang-orang yang memiliki masalah autoimun. Ketika Anda mengalami anemia hemolitik, pembentukan sel darah merah menjadi sangat kecil sehingga trombosit yang ada di dalamnya tidak terhitung oleh tubuh sehingga produksinya terus meningkat. Alhasil, jumlah trombosit menjadi lebih tinggi daripada jumlah normal. 

  1. Infeksi 

Infeksi merupakan penyebab trombosit paling umum yang bisa dialami oleh anak-anak sampai orang dewasa. Pasalnya ketika Anda mengalami infeksi, tubuh akan memproduksi trombosit secara ekstrem hingga 1 juta sel per mikroliter darah. Namun ketika infeksi tersebut mereda, kadar trombosit pun akan turun secara perlahan. Kadar trombosit akan kembali normal setelah beberapa minggu pasca infeksi pulih. 

  1. Masalah Limpa 

Limpa merupakan salah satu wadah penyimpanan trombosit di dalam tubuh. Ketika limpa bermasalah, kadar trombosit pun kemungkinan besar akan mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Beberapa masalah limpa yang dapat membuat trombosit tinggi, yaitu berkurangnya fungsi limpa sampai pada pembedahan limpa. 

  1. Cryoglobulinemia Campuran 

Cryoglobulinemia campuran merupakan salah satu masalah autoimun yang disertai masalah di organ tubuh vital lainnya. Contoh kondisi cryoglobulinemia campuran adalah seseorang yang terkena lupus sekaligus mengalami hepatitis C. Pada kondisi ini, protein dalam dalam akan saling menempel dan terhitung sebagai trombosit tambahan. Alasan inilah yang membuat kadar trombosit penderita cryoglobulinemia campuran cenderung menjadi sangat tinggi dibandingkan kadar normal.  

  1. Kelainan Genetik

Bisa jadi Anda tidak memiliki keluhan penyakit apapun, namun kadar trombosit Anda terdata tinggi. Jika seperti ini, penyebabnya mungkin adalah kelainan genetik. Trombosit tinggi karena kelainan genetik dikenal dengan istilah trombositemia primer. Tingginya kadar trombosit dikarenakan adanya mutasi gen yang membuat sumsum tulang belakang lebih banyak memproduksi trombosit dari jumlah yang seharusnya. Dengan kondisi tersebut, darah menjadi lebih kental dan mengalir lebih lambat sehingga berpotensi mengakibatkan penggumpalan darah

  1. Pendarahan Akut 

Saat Anda mengalami pendarahan, tubuh cenderung akan memberi sinyal untuk memproduksi trombosit lebih banyak agar pendarahan lekas berhenti. Ini mengingat fungsi trombosit adalah membantu sel darah untuk membeku. Umumnya, produksi trombosit pada saat ada pendarahan pada tubuh tidak terlalu besar. Namun jika Anda mengalami pendarahan akut dalam waktu yang singkat, sumsum tulang belakang cenderung akan memproduksi trombosit secara berlebihan sehingga Anda mengalami trombosit tinggi

*** 

Ketika mengalami trombosit tinggi, cobalah untuk segera berkonsultasi ke dokter. Pasalnya jika dibiarkan, risiko berbagai penyakit yang jauh lebih berbahaya bisa mengancam kesehatan bahkan jiwa Anda.

Hati-Hati Emboli Paru, Penyumbatan yang Bisa Menyebabkan Kematian!

Pulmonary embolism (PE) atau yang biasa disebut dengan emboli paru adalah penyumatan di salah satu pembuluh darah di paru-paru Anda. Arteri adalah pembuluh darah yang membawa darah dari jantung ke organ, otot, dan jaringan lainnya.

Jadi, sering kali adanya penyumbatan yang disebabkan oleh pembekuan darah yang tidak mengalir dari vena di kaki. PE adalah kondisi yang sangat berbahaya, karena dapat mengancam jiwa seseorang. Namun, apakah emboli paru dapat diobati?

Gejala emboli paru

Tentu saja emboli paru ini bisa disembuhkan. Jika Anda mendiagnosis emboli paru lebih awal dan mengobatinya sesegera mungkin setelah gejala awal muncul. Berikut beberapa gejala yang paling jelas dari emboli paru tersebut, di antaranya:

  • Sesak napas yang tiba-tiba baik saat Anda sedang berkegiatan atau sedang beristirahat
  • Nyeri dada atau ketidaknyamanan yang memburuk saat Anda membungkuk, batuk, atau makan
  • Nyeri tajam yang tidak dapat dijelaskan di dada, lengan, bahu, leher, atau rahang. Rasa sakitnya mungkin juga mirip dengan gejala serangan jantung.
  • Batuk dengan atau tanpa lendir berdarah
  • Kulit pucat, lembab, atau berawarna kebiruan
  • Detak jantung cepat
  • Keringat berlebih
  • Dalam beberapa kasus sering merasa cemas, pusing, hingga pingsan

Apa yang menyebabkan emboli paru?

Emboli paru dapat terjadi ketika:

  • Darah terkumpul atau menggenang di bagian tubuh tertentu, misalnya lengan atau kaki. Pengumpulan darah biasanya terjadi setelah sekian lama tidak aktif seperti setelah operasi atau istirahat di tempat tidur.
  • Ketika pembuluh darah telah terluka, seperti patah tulang atau pembedahan, terutama di pinggul, lututu, atau kaki.
  • Akibat kondisi medis lainnya, seperti kardiovaskular. Termasuk gagal jantung, kongestif, fibrilasi atrium, dan serangan jantung atau stroke.
  • Ketika faktor pembekuan darah meningkat dan dalam beberapa kasus diturunkan. Peningkatan faktor ini dapat terjadi dengan beberapa jenis kanker atau pada beberapa wanita yang menggunakan terapi penggantian hormon atau pil KB. Faktor pembekuan darah yang tidak normal atau rendah pun dapat terjadi akibat dari kondisi keturunan.

Komplikasi emboli paru

  • Gagal jantung. Ketika jantung tiba-tiba berhenti berdetak, kondisi tersebut disebut henti jantung. Emboli paru dapat menyebabkan serangan jantung, dan bila ini terjadi maka risiko kematian dini menjadi sangat tinggi.
  • Hipertensi paru. Sangat penting untuk mengobati emboli paru, jika tidak dapat menyebabkan hipertensi pulmonal. Istilah lain untuk tekanan darah tinggi di arteri di paru-paru Anda.
  • Pendarahan tidak normal. Hal ini biasanya terjadi setelah Anda mengonsumsi obat antikoagulan. Obat ini cukup untuk mencegah darah membeku terlalu cepat. Namun, pada beberapa orang terapi antikoagulan dapat menyebabkan masalah perdarahan.
  • Komplikasi embolektomi. Tujuan dari embolektomi adalah menghilangkan bekuan darah dengan alat, yaitu menggunakan kateter.
  • Aritmia, adalah istilah untuk menggambarkan setiap irama jantung yang abnormal.
  • Infark paru, kematian di jaringan paru-paru. Hal ini terjadi ketika darah beroksigen diblokir saat ingin mencapai jaringan paru-paru dan menjaganya tetap bergizi. Biasanya gumpalan yang lebih besar akan menyebabkan kondisi ini.
  • Efusi pleura, air di paru-paru. Kondisi ini di mana cairan menumpuk di antaa lapisan pleura, yang merupakan selaput tipis yang mengelilingi paru-paru. Gejalanya bisa berupa sesak napas, batuk kering, dan nyeri dada.

Jadi, memang benar emboli paru dapat menyebabkan komplikasi hingga kematian. Namun, jika penyakit ini terdeteksi lebi awal dan dapat perawatan sesegera mungkin maka kemungkinan untuk sembuh pun akan semakin tinggi. Oleh karena itu, jika Anda merasakan beberapa gejala seperti di atas, ada baiknya untuk segera memeriksakan dirike dokter, untuk mendapatkan penangan lebih lanjut.

Bagaimana Cara Mengatasi ASI Tersumbat?

Setelah melahirkan bayi, seorang ibu akan menjalani fase berikutnya, yaitu fase menyusui. Menyusui merupakan salah satu tantangan yang perlu dihadapi seorang ibu dimana fase tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Tantangan lain yang perlu diperhatikan seorang ibu adalah jika ASI tersumbat dan tidak segera diatasi, maka seorang ibu bisa mengalami demam hingga mastitis.

Tanda dan Gejala ASI Tersumbat

Menyusui membutuhkan kekuatan fisik dan mental. Tekanan seperti ASI tersumbat bisa berdampak pada aktivitas sehari-hari seorang ibu dan ketersediaan ASI untuk bayinya. ASI yang tersumbat bisa terjadi karena adanya tanda di bawah ini:

  • Benjolan di dalam payudara (benjolan tersebut juga bisa bergeser).
  • Rasa nyeri dan bengkak di sekitar benjolan.
  • Bintik putih pada bagian puting susu.
  • Ketersediaan ASI menurun.

Jika ASI tersumbat, maka akan menimbulkan gejala berupa mastitis. Mastitis merupakan gangguan yang terjadi ketika menyusui. 1 dari 10 orang mengalami kondisi seperti ini, dan orang yang pernah mengalaminya bisa merasakannya kembali.

ASI yang tersumbat tidak hanya menyebabkan mastitis, namun juga dapat menyebabkan seorang ibu demam dan merasakan sensasi terbakar ketika menyusui atau memerah ASI.

Penyebab ASI Tersumbat

Seorang ibu yang merasakan adanya ASI tersumbat bisa terjadi karena faktor berikut:

  • Memakai bra dengan ukuran yang tidak sesuai.
  • Melewatkan sesi memerah ASI atau menyusui.
  • Menyusui dengan hanya satu sisi payudara.
  • Merokok.
  • Stres.
  • Merasa lelah.
  • Kekurangan nutrisi.
  • Adanya luka pada puting.
  • Pernah mengalami mastitis.

Cara Mengatasi ASI Tersumbat

Jika Anda merupakan seorang ibu yang memasuki tahap menyusui dan menunjukkan tanda bahwa ASInya tersumbat, Anda sebaiknya lakukan cara berikut:

  • Fokus pada payudara yang tersumbat

Salah satu cara yang dapat Anda lakukan adalah fokus pada payudara yang tersumbat, baik ketika menyusui secara langsung maupun memerah ASI. Anda coba keluarkan ASI sebanyak mungkin, karena terkadang sejumlah ASI yang dikeluarkan tidak sesuai karena terhambat.

  • Menghisap di area yang tersumbat

Cara lain untuk mengeluarkan ASI adalah membiarkan bayi menghisap ASI yang tersumbat. Bayi memiliki kekuatan mulut yang kuat untuk menyedot ASI ketika mereka merasa lapar. Hal tersebut dapat mengurangi efek yang terjadi pada payudara.

  • Memijat

Cara lain yang dapat Anda lakukan adalah memijat bagian payudara yang tersumbat, bahkan jika hal tersebut membuat Anda merasa kesakitan. Anda dapat menggunakan tangan atau alat seperti lactation massager. Alat tersebut dapat membantu memperlancar proses pemerahan ASI.

  • Merendam

Anda juga dapat menghangatkan payudara Anda dengan kompres hangat dan terapkan ke bagian payudara yang tersumbat. Meredam payudara di baskom berisi air hangat juga dapat memberikan efek yang sama seperti lactation massager. Anda juga dapat menggunakan air hangat dengan mandi pakai shower.

  • Periksa ke dokter

Jika Anda mengalami mastitis, Anda perlu periksa kondisi payudara Anda ke dokter. Jika mastitis sudah menimbulkan nanah atau abses, maka perlu dioperasi.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan dokter tentang ASI, Anda sebaiknya persiapkan hal-hal sebagai berikut:

  • Pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.
  • Gejala yang Anda alami akibat ASI tersumbat.
  • Riwayat mastitis (jika ada).

Selama Anda berkonsultasi dengan dokter, dokter juga akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala akibat mastitis terjadi?
  • Apakah Anda pernah mengalami mastitis sebelumnya?
  • Apa saja kendala yang Anda alami ketika memerah ASI atau menyusui?

Kesimpulan

Jika ASI tersumbat, Anda bisa terapkan cara-cara yang disebutkan di atas. Namun, jika kondisi payudara memburuk, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.

Benarkah Abses Pada Gusi Bisa Sembuh Sendiri?

Infeksi pada mulut yang dibiarkan dan akhirnya membentuk kantung atau benjolan berisi nanah pada gusi disebut dengan abses pada gusi. Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi serius, sehingga harus mendapatkan penanganan yang tepat. Namun demikian, ada pula yang menyebut jika kondisi ini bisa sembuh dengan sendirinya tanpa penanganan.

Kondisi ini biasanya dirasakan seseorang ketika merasa ada benjolan di dekat gigi pada bagian mana pun. Kondisi ini terbagi menjadi tiga jenis, seperti di antaranya abses periodontal abses periapikal dan abses gingival. Kondisi ini perlu penanganan yang segera ketika gejala muncul, karena jika tidak jaringan tulang pada gigi bisa rusak.

Abses Pada Gusi Bisa Sembuh Sendiri

Perlu diketahui jika sebenarnya abses gigi tidak bisa sembuh dengan sendirinya, hal inilah yang membuat kenapa penanganan medis sangat dibutuhkan dalam membasmi kuman pada abses. Selain itu penanganan juga digunakan untuk mengeringkan nanah di dalamnya hingga mencabut gigi yang mengalami infeksi.

Nanah yang muncul pada umumnya berwarna kekuningan, merah hingga kecokelatan dan memiliki bau yang sangat menyengat. Nanah merupakan cairan kental yang mengandung bakteri dan jaringan atau sel-sel mati. Untuk mengetahui seseorang terkena penyakit ini terdapat beberapa gejala yang muncul.

Seperti nyeri berdenyut dan terasa sangat menyakitkan, ini menjadi gejala utama yang secara umum terjadi pada pengidap abses gigi. Rasa sakit yang muncul bahkan bisa bertambah parah di malam hari dan terasa menjalar hingga rahang, telinga dan leher. Berikut ini beberapa gejala yang perlu diperhatikan.

  • Mulut terasa anyir, gigi sensitif, terlebih jika penderita mengonsumsi minuman dan makanan yang panas atau dingin.
  • Nanah muncul pada area yang merasakan nyeri hingga menimbulkan bau mulut, mengalami bengkak pada wajah, pipi dan leher.
  • Selain itu, gusi juga mengalami pembengkakan dan terasa lunak karena adanya nanah yang terdapat di dalam gusi tersebut.

Abses Gusi Bisa Dicegah

Bakteri hidup pada plak dan menginfeksi gusi hingga menyebabkan gusi meradang, inilah yang menyebabkan ligamen gusi terlepas dari pangkat gusi. Keadaan ini membuat lubang kecil dan sulit dibersihkan, semakin banyak sisa makanan menumpuk maka semakin banyak pula bakteri dalam lubang tersebut, untuk mengatasi kondisi ini lakukan beberapa langkah berikut.

  • Usahakan untuk tidak mengonsumsi makanan dan minuman panas, dingin, kandungan gula tinggi atau terlalu asam.
  • Pada area yang mengalami nyeri akibat abses gusi ini, sangat disarankan untuk menghindari membersihkan area tersebut dengan benang gigi.
  • Ketika menyikat gigi, lakukan dengan secara perlahan, gunakan bulu sikat yang lembut dan dengan gerakan memutar.
  • Disarankan untuk menggunakan bagian lain dari sisimulut agar tidak terlalu sakit, ketika salah satu bagian gigi sakit.

Kondisi mulut kotor dan dipenuhi banyak bakteri membuat abses gusi dapat muncul setelah seseorang melakukan prosedur medis pada gigi dan mulut. Cegah kondisi ini dengan melakukan pemeriksaan sebanyak dua kali dalam satu tahun untuk mencegah terjadinya penyakit pada gigi dan gusi.

Abses pada gusi menyebabkan gejala yang tidak mengenakan dan perlu ditangani dengan perawatan yang cukup kulit. Hal inilah yang membuat seseorang agar selalu menjaga kesehatan dan kebersihan gusi dengan baik. Sikat gigi sebanyak dua hingga tiga kali dalam sehari, terutama setelah makan.

Rutin membersihkan gigi dengan scaling ke dokter, setidaknya enam bulan sekali, segera kunjungi dokter gigi jika mengalami gejala penyakit ini. Penanganan abses gusi secara dini mampu memberikan hasil yang baik.

Penyebab Munculnya Kram Perut Kiri Bagian Atas dan Bawah

Mungkin sebagian orang sering mengalami kram perut di bagina-bagian tertentu dan menganggap hal tersebut adalah kondisi biasa dan tak jarang diabaikan. Padahal rasa sakit atau kram perut kirim merupakan pertanda adanya gangguan kesehatan dalam tubuh.

Biasanya, kram perut kiri menjadi pertanda bahwa organ-organ tubuh seperti paru-paru, jantung, ginjal, serta pankreas mengalami masalah. Rasa kram di bagian perut kiri ini bisa terjadi di bagian atas atau bawah.

Penyebab Kram Perut Kiri Atas

Kram yang terjadi di bagian kiri atas atau berada di bawah tulang rusuk bisa disebabkan oleh perdarahan di saluran pencernaan. Selain itu juga bisa disebabkan oleh masalah pada organ-organ tertentu. Berikut beberapa penyebab kram perut kiri atas.

  • Gangguan Lambung

Munculnya kram perut kiri atas bisa disebabkan karena adanya masalah lambung seperti maag atau luka lambung. Sehingga kondisi ini menimbulkan keluhan di perut kiri bagian atas dan juga tengah.

  • Infeksi Ginjal

Saat terjadi infeksi ginjal, biasanya akan muncul kram perut kiri atas, nyeri di punggung dan selangkangan, demam, mual, mutah, serta nyeri ketika buang air kecil. Segeralah berkonsultasi dengan dokter jika mengalami gejala ini.

  • Limpa Membengkak

Limpa bisa menjadi luka dan membengkak ketika terjadi cedera di sisi kiri tubuh. Sehingga akan berakibat pada kram perut kiri atas. Limpa bengkak bisa juga disebabkan karena penyakit hati atau adanya kelainan darah tertentu.

  • Pankreatitis

Pankreatitis biasanya terjadi karena peradangan pankreas. Selain terasa nyeri di perut kiri atas, tetapi juga terasa sakit yang menyebar ke area punggung. Gejala lain yang juga muncul seperti demam, diare, mual, muntah, dan detak jantung meningkat.

  • Sindrom Iritasi Usus

Ada beberapa penyebab sindrom iritasi usus, seperti infeksi bakteri, depresi, hingga intoleransi pada makanan tertentu. Sehingga akan menyebabkan kram perut kiri atas dan disertai gejala lain seperti sembelit, kembung, diare, serta tinja berlendir putih.

Penyebab Kram Perut Kiri Bawah

Selain kram di bagian perut kiri bagian atas, sering juga terasa kram perut kiri bawah. Gangguan kesehatan yang paling sering menyebabkan kram perut kiri bawah ini adalah divertikulitis yang merupakan kantong abnormal di usus. Jika kantong tersebut robek, maka bisa menyebabkan pembengkakan dan infeksi. Ada juga penyebab lain sehingga terasa kram perut kiri bawah ini, yaitu:

  • Gangguan Pencernaan

Kondisi ini biasanya terjadi setelah makan dimana adanya gangguan pencernaan karena iritasi di kerongkongan, lambung, hingga usus yang terkena asam lambung. Adanya gangguan pencernaan ini biasanya juga menyebabkan rasa sakit atau kram perut di sebelah kiri atas dan juga bawah.

  • Terdapat Banyaknya Gas dalam Tubuh

Kram perut kiri bawah juga bisa disebabkan karena adanya banyak gas dalam tubuh. Hal ini karena biasanya Anda mengkonsumsi makanan secara berlebihan, adanya infeksi bakteri di usus besar, atau merokok.

  • Menstruasi

Selama masa menstruasi biasanya akan terasa kram di perut bagian kiri bawah. Biasanya ini adalah hal normal dan bukan pertanda maslaah serius.

  • Batu Ginjal

Batu ginjal yang bergerak dalam ginjal atau saluran ureter, biasanya akan menyebabkan rasa sakit di perut kiri bagian bawah.

  • Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik juga bisa menyebabkan munculnya kram perut kiri bawah. Kehamilan ektopik terjadi karena sel telur yang dibuahi tertanam dan berkembang di luar rahim.

Cara Mengeluarkan Air dari Telinga dengan Alami

Ketika kita sedang mandi, berenang, atau berolahraga sampai keringat mengucur, bukan tidak mungkin telinga kita akan kemasukan air. Ketika hal itu terjadi, tentu tidak enak karena bisa mengganggu pendengaran. Oleh karenanya, perlu juga kita mencari tahu cara mengeluarkan air dari telinga.

Sebelum kita membahas lebih lanjut, perlu kita pahami apabila telinga kita kemasukan air, terlebih dalam jangka waktu yang lama atau berkali-kali, hal itu malah meningkatkan risiko peradangan dan infeksi pada saluran telinga.

Jika telinga sudah terinfeksi, mulanya gejala memang terasa ringan. Hanya saja, apabila tidak diobati atau tidak segera dikeluarkan air yang ada di dalamnya, hal tersebut malah memicu penyebaran infeksi dan situasi bisa memburuk.

Adapun gejala infeksi pada telinga dalam kadar ringan ialah adanya kemerahan pada telinga, gatal di bagian saluran telinga, terasa nyeri saat daun telinga ditarik dan ada air bening yang keluar, tapi tidak menimbulkan bau.

Apabila infeksi pada telinga sudah parah, ciri-cirinya adalah terjadi penurunan tingkat pendengaran, keluar nanah dari dalam telinga, air atau cairan yang keluar semakin banyak, kemerahan pada telinga meluas, rasa sakit atau nyeri kian terasa, gatal semakin mengganggu dan lain sebagainya.

Oleh karena bahaya tersebut, kita juga perlu mempelajari cara mengeluarkan air dari telinga. Sebetulnya, dalam melakukan ini kita bisa mempraktekkannya secara alami. Maksudnya adalah tidak menggunakan alat bantu lainnya.

  • Menggoyangkan telinga

Ketika telinga kita kemasukan air, kita tidak perlu panik karena banyak sekali hal-hal sederhana yang bisa kita lakukan agar lekas mengeluarkan air dari telinga. Salah satu cara mengeluarkan air dari telinga adalah dengan menggoyangkan telinga yang kemasukan air.

Langkahnya sendiri cukup mudah untuk dilakukan. Pertama-tama, kita hanya butuh menarik atau bila diperlukan menggoyangkan daun telinga secara perlahan-lahan saja. Selain itu, gerakan tambahan yang bisa diterapkan adalah meletakkan posisi kepala ke arah bawah atau bisa juga menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri.

  • Goyangkan mulut

Tindakan sederhana lainnya yang bisa membuat air keluar dari telinga adalah menggerakan mulut seperti mengunyah makanan. Cara mengeluarkan air dari telinga tersebut bertujuan agar bisa membuka saluran telinga dengan harapan air yang ada di dalamnya bisa lekas keluar. Ketika menggerakan mulut seperti mengunyah, pembaca bisa juga melakukannya seraya makan permen karet.

Tentunya, dengan begitu akan membuat mulut terus bergerak dan pembaca bisa mengeluarkan air dari dalam telinga tanpa sadar. Kalau tidak ada permen karet, anda bisa mengimbanginya dengan menguap yang tujuannya untuk melemaskan daun telinga dan air yang di dalam bisa segera keluar.

  • Menyamping

Cara mengeluarkan air dari telinga berikutnya adalah dengan mengambil posisi berbaring dengan menghadap tubuh ke samping. Dalam melakukan teknik ini, pembaca hanya perlu tiduran di sisi telinga yang kemasukan air. Memang tidak dalam hitungan detik air keluar, melainkan butuh beberapa menit untuk dengan sendirinya air keluar.

  • Ruang hampa

Hal berikutnya sebagai alternatif cara mengeluarkan air dari telinga adalah dengan menciptakan ruang hampa udara. Kegiatan tersebut bertujuan untuk menarik air yang ada di dalam telinga. Ketika melakukan teknik ini, pembaca perlu menyampingkan kepala ke arah telinga yang tidak tersumbat. Pada saat yang bersamaan, tutup telinga yang tersumbat dengan tangan.

Tahap berikutnya, anda hanya perlu mendorong telapak tangan ke belakang dan depan, tetapi dengan gerakan yang cepat. Sesudahnya, pembaca baru bisa memiringkan kepala ke bagian telinga yang kemasukan air agar cairan bisa keluar.

Itulah beberapa cara mengeluarkan air dari telinga alami yang bisa kita lakukan ketika telinga kemasukan air. Ingat-ingat, ketika ada air yang masuk ke telinga, segeralah ambil tindakan agar terhindar dari infeksi.

Selain Bermanfaat, Analgetik Juga Picu Efek Samping

Jenis obat analgetik sudah banyak beredar bebas di pasaran. Aspirin, parasetamol, ataupun ibuprofen merupakan beberapa jenis analgetik yang mungkin sudah sering Anda gunakan. Peminat jenis obat yang satu ini memang cukup banyak, mengingat fungsinya yang secara umum dapat meredakan nyeri.

Beragam jenis keluhan penyakit nyatanya bisa dikurangi dengan pengonsumsian analgetik, contohnmya peradangan otot maupun nyeri sendi. Namun memang, ada pula beberapa jenis analgetik yang tidak dijual bebas karena penggunaannya untuk gejala penyakit yang lebih berat.

Manfaat Analgetik

Secara garis besar, analgetik dibagi menjadi dua jenis. Ada analgetik non-opioid yang hanya bekerja pada reseptor nyeri yang berada di daerah yang sekitar nyeri. Ada pula analgetik opioid yang sistem kerjanya memengaruhi sistem saraf pusat sehingga penggunaannya harus dengan resep dokter. Baik analgetik non-opioid dan analgetik opioid, sebenarnya memiliki manfaat yang sama, yakni:

  • Meredakan nyeri otot;
  • Mengurangi sakit gigi;
  • Menurunkan demam;
  • Mengobati sakit kepala;
  • Meredakan radang sendi; serta
  • Menghentikan kram menstruasi.

Namun, penggunaan analgetik tidak melulu mampu menghadirkan manfaat yang diharapkan jika gejala penyakit terlalu parah. Apabila sudah memakai analgetik namun nyeri dan sakit tidak berkurang lebih dari 2 hari, disarankan Anda memeriksakan diri ke dokter untuk mendapatkan penanganan lebih tepat.

Hati-hati Efek Samping

Meskipun dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko obat, penggunaan analgetik tidak boleh sembarangan. Selain menawarkan manfaat yang ampuh mengurangi rasa sakit dan nyeri, nyatanya jenis obat ini juga dapat memunculkan efek samping yang tidak ringan. Berikut ini adalah beberapa efek samping yang kerap dialami oleh pengguna analgetik.

  • Sembelit

Penggunaan analgetik yang terlalu sering dapat membuat usus mengalami iritasi dan Anda akan mengalami sulit buang air besar (BAB) hingga mengarah ke konstipasi atau sembelit. Sembelit akibat analgetik bahkan dapat membuat Anda mengeluarkan feses yang bercampur darah.

  • Sakit Perut

Penggunaan analgetik kerap menimbulkan masalah pencernaan. Salah satunya sakit perut. Bahkan dalam tahap yang parah, efek samping analgetik bisa memecahkan dinding perut.

  • Telinga Berdenging

Beberapa jenis obat analgetik dapat memengaruhi sistem saraf. Telinga berdenging menjadi salah satu indikator adanya efek samping jenis obat ini ke bagian saraf Anda.

  • Alergi

Tidak semua orang cocok ketika mengonsumsi analgeti. Tidak jarang ditemukan orang yang alergi terhadak obat pereda nyeri ini. Kulit kering hingga ruam kemerah-merahan menjadi penanda Anda mungkin termasuk orang yang alergi mengonsumsi anagetik.

  • Mengantuk

Sebisa mungkin konsumsilah analgetik ketika Anda tidak sedang berkendara atau bekerja. Pasalnya, salah satu efek samping paling umum dari penggunaan obat ini adalah rasa mengantuk yang cukup parah.

  • Pusing

Banyak orang mengaku sering tiba-tiba merasa pusing ketika mengonsumsi jenis obat pereda nyeri ini.

  • Peradangan Ginjal

Mengonsumsi analgetik memang dapat meredakan peradangan sendiri. Namun jika cara pakainya salah dan menimbulkan kebergantungan, bersiap-siaplah menghadapi risiko peradangan ginjal.

  • Sesak Napas

Efek samping yang satu ini memang langka terjadi. Namun pada beberapa orang yang ternyata memiliki alergi terhadap anagetik, gejala sesak napas akan dialami tiap kali mengonsumsi jenis obat ini.

  • Mimisan

Mimisan menjadi efek samping yang cukup jarang terjadi pada pengguna analgetik. Namun, efek samping ini juga mesti diwaspadai sebab artinya obat pereda nyeri yang Anda gunakan tersebut sudah sangat memengaruhi sistem saraf.

  • Anemia

Belum dapat diterangkan secara ilmiah alasan efek samping ini muncul. Namun, orang-orang yang kerap menggunakan analgetik ternyata memiliki masalah kurang darah atau anemia.

Walaupun banyak efek samping dari jenis obat ini, belum tentu ketika Anda mengonsumsinya, Anda akan terkena efek buruk yang tidak menyenangkan. Ini mengingat risiko efek samping dari analgetik sangat bergantung pada jenis analgetik yang Anda konsumsi serta sudah berapa lama Anda menggunakannya.