4 Fakta Seputar Alergi Obat yang Perlu Anda Ketahui

Beberapa dari Anda mungkin pernah mengalami reaksi alergi setelah mengonsumsi obat tertentu, hal ini disebut alergi obat. Artinya, sistem imun tubuh yang idealnya untuk melawan infeksi dan penyakit, bereaksi terhadap obat.

Gejala yang timbul akibat alergi obat ini dapat beragam, mulai dari ruam kemerahan, demam, hingga sulit bernapas. Reaksi yang tidak diharapkan akibat konsumsi obat memang lebih banyak karena efek samping, dibanding reaksi alergi. Meski demikian, Anda tetap perlu mengetahui adakah obat yang memicu reaksi alergi di tubuh Anda.

Alergi obat, respons dari sistem imun

Sistem imun Anda dirancang untuk melindungi tubuh dari penyakit. Zat asing seperti virus, bakteri, parasit, dan berbagai zat berbahaya lain akan dilawan oleh sistem imun.

Dalam kasus alergi obat, tubuh keliru mengenali obat sebagai zat asing yang mengancam. Sehingga, saat obat masuk ke dalam tubuh, sistem imun bereaksi dengan cara menyerang.

Respons sistem imun ini akan memicu terjadinya inflamasi. Gejala yang muncul biasanya berupa ruam, demam, hingga sulit bernapas. Reaksi alergi ini dapat langsung muncul saat Anda pertama kali mengonsumsi obat tertentu, atau setelah beberapa kali mengonsumsi obat dan sebelumnya tidak ada masalah.

Reaksi alergi obat dapat berbahaya

Gejala alergi obat bisa sangat ringan, hingga Anda tidak menyadarinya sama sekali. Mungkin Anda tidak mengalami apa pun, selain ruam.

Namun, gejala alergi yang parah dapat sangat mengancam jiwa. Sebagai contoh, bila terjadi anafilaksis. Suatu reaksi alergi yang tiba-tiba terhadap obat. Dapat terjadi langsung setelah Anda meminum obat, atau baru muncul setelah 12 jam obat tersebut dikonsumsi.

Gejala dari anafilaksis di antaranya detak jantung tidak teratur, sulit bernapas, terjadi pembengkakan, hingga tidak sadarkan diri. Jika tidak ditangani segera, kondisi ini dapat berakibat fatal.

Beberapa obat yang sering memicu alergi

Setiap obat memiliki dampak yang berbeda pada setiap orang. Dengan demikian, beberapa obat dapat memiliki kecenderungan memicu alergi pada orang tertentu.

Sebagai contoh, beberapa orang alergi dengan dengan antibiotik golongan penisilin dan sulfa. Sementara, sebagian yang lain menunjukkan reaksi alergi obat saat mengonsumsi aspirin, obat Anti Inflamasi Non-Steroid (AINS), serta antikonvulsan.

Beberapa kasus alergi obat juga muncul pada pemberian obat monoclonal antibody, seperti trastuzumab dan ibritumomab. Atau pada pemberian obat-obat kemoterapi untuk pasien kanker.

Perbedaan efek samping dan alergi obat

Reaksi alergi obat mungkin keliru diterjemahkan sebagai efek samping atau sebaliknya. Perbedaan mendasar dari kedua kondisi tersebut yaitu reaksi alergi hanya terjadi pada orang-orang tertentu dan melibatkan masalah sistem imun. Dampak dari reaksi ini selalu negatif.

Sementara efek samping obat dapat terjadi pada siapa pun yang mengonsumsi obat tersebut. Biasanya, tidak ada kaitannya dengan sistem imun. Efek yang muncul dapat buruk atau baik, meski bukanlah manfaat utama obat tersebut.

Aspirin sebagai penahan nyeri misalnya, memiliki efek samping buruk bagi sistem pencernaan. Tapi, ada pula efek samping baik, dapat membantu menurunkan risiko serangan jantung dan stroke. 

Kini, Anda telah mengetahui beberapa fakta terkait alergi obat. Namun, pertanyaan paling penting adalah bagaimana menghentikan alergi obat?

Menghentikan penggunaan obat tersebut merupakan cara paling efektif untuk menghentikan reaksi alergi obat. Namun, hal tersebut tidak dapat seketika dilakukan bila Anda membutuhkan obat terkait. Pada kasus demikian, dokter mungkin akan memberikan obat antihistamin. Dapat pula diberikan kortikosteroid untuk mengatasi gejala peradangan yang terjadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *