Alice in Wonderland Syndrome dan Kondisi Lain Sejenis

Dongeng merupakan sebuah cerita rekaan yang sengaja dibuat fenomenal atau “tidak biasa” dengan tujuan tertentu. Biasanya, dongeng dibuat untuk menyampaikan pesan kepada anak-anak. Namun, siapa sangka jika cerita dongeng bisa menggambarkan atau mewakilkan sebuah kondisi medis tertentu. Alice in Wonderland syndrome jadi yang paling populer dalam kasus ini.

Kata “menggambarkan” dan/atau “mewakilkan” dipilih karena apa yang dialami penderita dari kondisi tersebut serupa dengan apa yang terjadi di dongeng. Misalnya dalam kasus Alice in Wonderland syndrome, penderitanya seakan-akan menjadi Alice atau si tokoh utama dalam dongeng tersebut yang bisa berubah menjadi besar atau kecil.

Kendati, ya, tentu saja, Alice in Wonderland syndrome tak benar-benar membuat penderitanya dapat membesar atau mengecil. Ini hanya kiasan atau perumpamaan. Berikut penjelasan lebih lengkap mengenai apa yang dialami oleh penderita Alice in Wonderland syndrome:

Alice in Wonderland Syndrome (AWS) adalah kondisi langka yang membuat seseorang merasa tubuhnya lebih besar atau lebih kecil dari benda-benda di sekitarnya. Perlu digarisbawahi, bahwa kondisi tersebut hanyalah persepsi atau perasaan dari penderitanya.

Selain itu, penderita Alice in Wonderland syndrome juga merasa benda-benda di sekelilingnya mengalami perubahan jarak. Mereka bisa merasa sebuah pesewat teve di atas meja menjadi lebih dekat atau lebih jauh, padahal benda itu tak pernah bergerak atau berpindah tempat.

Gangguan Alice in Wonderland syndrome bisa berpusat di berbagai indra, termasuk penglihatan, peraba, dan pendengaran. Orang yang mengalami sindrom ini juga mengalami putus realita terhadap waktu. Artinya, waktu yang berjalan bisa terasa lebih cepat maupun lebih lambat.

Sampai saat ini belum dapat dipastikan apa yang menyebabkan seseorang mengalami Alice in Wonderland syndrome. Namun, diyakini bahwa sindrom ini berkaitan dengan  aktivitas listrik yang tak biasa di dalam otak. Aktivitas listrik tersebut memicu aliran darah menjadi tidak normal ke bagian otak yang mengolah persepsi visual dan lingkungan.

Selain Alice in Wonderland syndrome, ada kondisi lain yang penamaannya diilhami dengan cerita atau film berbasis dongeng. Apa saja? Berikut di antaranya:

  • Sleeping Beauty Syndrome

Persis seperti di cerita dongeng. Penderita sindrom ini membuat penderitanya mengalami rasa kantuk luar biasa sehingga saat tertidur, mereka dapat menghabiskan waktu hingga berbulan-bulan. 

Sindrom ini juga dikenal dengan nama Klene-levin syndrome dan termasuk kondisi yang langka. Satu kasus yang pernah tercatat dialami oleh sorang gadis berusia 16 tahun, Beth Goodier. Suatu ketika, sepulangnya dari sekolah, Beth tertidur dan baru bangun beberapa hari setelahnya, padahal ibunya berusaha keras membangunkan anaknya tersebut.

  • Peter Pan Syndrome

Peter Pan adalah dongeng yang menceritakan seorang peri kecil bernama Peter. Kisah ini dijadikan nama untuk sebuah sindrom yang membuat penderitanya kembali berlaku seperti bocah seusia Peter, meski usianya sudah tua.

Seseorang dengan sindrom Peter Pan ini juga cenderung enggan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang telah dilakukannya. Meski Peter adalah bocah lelaki, tetapi sindrom ini juga bisa dialami oleh perempuan. Diyakini, pengalaman atau sesuatu dari masa lalu yang menjadi pemicu dari kondisi ini.

  • Rapunzel Syndrome

Rapunzel adalah tokoh fiktif yang digambarkan sebagai sosok putri cantik dengan rambut yang amat panjang. Sindrom Rapunzel berkaitan dengan rambut. Bukan, penderitanya bukan memiliki pertumbuhan rambut yang luar biasa. 

Sindrom ini akan membuat penderitanya kebiasaan di mana mereka secara kompulsif ingin menarik dan memakan rambut mereka sendiri. Dalam dunia medis, kebiasaan ini juga disebut dengan istilah trichophagia.

Alice in Wonderland syndrome mungkin menjadi sebuah kondisi medis yang membuat penderitanya merasakan kebingungan yang amat sangat. Namun, sindrom-sindrom lain yang juga diambil dari kisah dongeng di atas tak kalah unik ‘kan? Apalagi semua sindrom yang disebutkan di atas terbilang langka dan khazanah dunia medis belum cukup banyak untuk mengatasi kondisi-kondisi tersebut. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *