Category: Ibu & Menyusui

PPI Seperti Omeprazole untuk Ibu Hamil Apa Risikonya?

PPI Seperti Omeprazole untuk Ibu Hamil Apa Risikonya?

Perawatan untuk penyakit refluks gastroesofagus (GERD) biasanya terdiri dari tiga tahapan. Dua tahapan pertama melibatkan konsumsi obat dan melakukan diet serta mengubah gaya hidup. Tahap ketiga adalah operasi atau tindakan bedah medis, yang hanya akan dilakukan pada kasus GERD yang sangat parah dan melibatkan komplikasi kesehatan. Kebanyakan orang biasanya akan mendapatkan manfaat dari perawatan tahap pertama dengan cara menyesuaikan bagaimana, kapan, dan apa yang mereka konsumsi. Akan tetapi, diet dan penyesuaian gaya hidup saja mungkin tidak akan efektif untuk beberapa orang. 

Dalam kasus ini, dokter akan merekomendasikan obat-obatan seperti omeprazole untuk ibu hamil dan penderita GERD lainnya yang dapat memperlambat atau bahkan menghentikan produksi asam di dalam lambung. Penghambat Pompa Proton (PPI) merupakan salah satu jenis obat yang dapat digunakan untuk mengurangi asam lambung dan meredakan gejala GERD. Obat-obatan lain yang dapat merawat asam lambung berlebih di antaranya adalah penghambat reseptor H2, seperti famotidine dan cimetidine. Akan tetapi, PPI biasanya lebih efektif dibandingkan dengan penghambat reseptor H2 dan dapat meredakan gejala dalam kebanyakan orang yang menderita GERD.

Adakah risiko penggunaan PPI?

Ketika kita membicarakan penggunaan obat, tentu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah informasi seputar efek samping dan risiko yang dibawa oleh obat tersebut, terutama apabila penggunaan PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil dilakukan. Faktanya, penggunaan tersebut diperbolehkan asal Anda mendapatkan rekomendasi dan resep dari dokter. Pada umumnya, PPI dianggap aman dan merupakan salah satu obat-obatan yang dapat ditoleransi oleh tubuh dengan mudah. Akan tetapi, penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa risiko tertentu mungkin dapat terjadi pada penggunaan PPI jangka panjang. 

Studi yang dilakukan baru-baru ini menemukan bahwa orang-orang yang menggunakan PPI jangka panjang memiliki keberagaman bakteri di dalam usus yang lebih sedikit. Kurangnya keberagaman tersebut akan membuat mereka memiliki risiko yang lebih tinggi dalam menderita infeksi, patah tulang, dan defisiensi vitamin dan mineral. Usus Anda mengandung triliunan bakteri. Meskipun beberapa di antaranya merupakan bakteri yang “jahat”, kebanyakan dari bakteri tersebut tidak berbahaya dan membantu tubuh menjalankan fungsinya, seperti pencernaan dan stabilisasi suasana hati. PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil dapat mengganggu keseimbangan bakteri tersebut setelah beberapa waktu, dan menyebabkan bakteri “jahat”  melebihi bakteri “baik”, yang akan menyebabkan seseorang menjadi sakit. 

Sebagai tambahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat menyatakan bahwa penggunaan PPI resep jangka panjang dapat dihubungkan dengan rendahnya level magnesium. Hal ini dapat menyebabkan kondisi kesehatan jantung yang serius, seperti kejang otot, detak jantung yang tidak teratur, dan kejang. Dalam 25 kasus yang ditinjau oleh FDA, suplementasi magnesium saja tidak meningkatkan level serum magnesium yang rendah. Sebagai hasilnya, penggunaan PPI harus dihentikan. Namun, FDA menekankan bahwa risiko menderita level magnesium yang rendah sangat kecil apabila Anda menggunakan PPI OTC sesuai dengan anjuran atau rekomendasi konsumsi. 

Berbeda dengan PPI resep, PPI OTC dijual dalam dosis yang lebih rendah. Obat tersebut juga biasanya dianjurkan untuk penggunaan atau perawatan selama jangka waktu 2 minggu, dan tidak lebih dari 3 kali dalam satu tahun. Meskipun potensi efek samping penggunaan PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil dan penderita GERD lainnya, PPI biasanya merupakan perawatan yang sangat efektif dalam merawat GERD. Anda dan dokter Anda dapat mendiskusikan potensi risiko penggunaan obat ini dan menentukan apakah penggunaan PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil merupakan pilihan yang tepat.

Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Kalsium Ibu Menyusui

Pentingnya Memenuhi Kebutuhan Kalsium Ibu Menyusui

Kebutuhan kalsium ibu menyusui adalah salah satu hal yang telah menjadi perhatian dalam dunia kesehatan. Alasan terbesarnya adalah banyaknya kalsium yang disekresikan ke dalam ASI dan digunakan oleh bayi untuk pertumbuhan tulang yang lebih kuat. Bahkan, proses ini sebanding dengan kecepatan cahaya, alias terjadi dengan cepat, sehingga tidak boleh diabaikan begitu saja.

Jika Anda tidak mempertahankan asupan kalsium yang cukup melalui makanan, Anda mungkin saja berisiko tinggi mengalami osteoporosis di kemudian hari. Cari tahu lebih banyak seberapa penting kalsium untuk ibu menyusui di dalam artikel berikut ini.

4 Alasan kebutuhan kalsium ibu menyusui harus terpenuhi

Berikut ini 4 alasan utama mengapa Anda harus memperhatikan kebutuhan kalsium dalam makanan Anda saat menyusui:

  1. Terjadi peningkatan kebutuhan kalsium

Sebagian besar wanita yang menyusui fokus sekali dengan buah hatinya, hingga lupa bahwa dirinya sendiri juga harus diperhatikan. Tidak sedikit ibu menyusui yang mengabaikan asupan kalsium dalam makanannya, rata-rata hanya mengonsumsi sekitar 400 mg kalsium selama hamil dan menyusui. Padahal, kebutuhan kalsium ibu menyusui sekitar 1.200 mg per hari. Selain itu, mendapatkan kalsium yang cukup dari makanan lebih baik daripada suplemen, karena tubuh Anda mampu menyerapnya dengan lebih baik.

  1. Kehilangan banyak kalsium pasca persalinan

Tahukah Anda? Seorang wanita dapat kehilangan kalsium empat kali lebih tinggi selama 9 bulan menyusui dibandingkan 9 bulan kehamilan. Ini karena kebutuhan kalsium si Kecil juga ikut meningkat seiring bertambahnya usia untuk proses pertumbuhan tulangnya yang lebih kuat. Anda harus mencegah hilangnya kepadatan mineral tulang Anda sendiri dengan menjaga asupan kalsium selama menyusui.

  1. Kehilangan kalsium setiap hari

Ibu menyusui akan memberikan ASI untuk makanan bayinya setiap beberapa jam setiap hari. Hal ini membuatnya rentan kehilangan kalsium dalam jumlah banyak setiap hari. Seorang ibu menyusui cenderung akan kehilangan 200 – 300 mg kalsium setiap hari pada saat menyusui. Inilah mengapa kebutuhan kalsium ibu menyusui harus dipenuhi dengan baik dari makanan sehari-hari.

  1. Memenuhi kebutuhan kalsium bayi

Bayi Anda terus membutuhkan kalsium untuk perkembangan tulang dan giginya menjadi lebih kuat, terutama dalam enam bulan pertama. Jika tidak terpenuhi dengan baik, maka bayi akan rentan mengalami kelainan tulang. Hampir 99% penyusun tulang dan gigi adalah kalsium. Selama enam bulan pertama, bayi Anda membutuhkan 200 – 300 mg kalsium setiap hari dari ASI. Oleh sebab itu, penting bagi Anda memenuhi kebutuhan kalsium bayi dan tubuh Anda melalui diet.

Efektifkah memenuhi kebutuhan kalsium dari produk susu?

Susu memang dapat menyediakan kalsium dalam jumlah yang banyak. Akan tetapi, sebagian besar ibu menyusui, produk susu bukanlah sumber kalsium terbaik. Hal ini terjadi karena susu telah menjadi makanan nomor satu penyebab bayi kolik. 

Ada beberapa makanan yang sangat direkomendasikan untuk memenuhi kebutuhan kalsium ibu menyusui, meliputi:

  • 4 buah ara (buah tin) setara dengan 124 mg kalsium. 
  • Satu sendok makan molase blackstrap dapat memenuhi 20% kebutuhan kalsium harian Anda. Selain itu, molase blackstrap kaya zat besi dan dapat membantu pemulihan setelah melahirkan.
  • Satu cangkir collard greens matang dapat menyediakan 357 mg kalsium.
  • Satu cangkir lobak hijau dapat memberikan Anda 249 mg kalsium.

Beberapa makanan lainnya juga bisa Anda konsumsi untuk membantu memenuhi kebutuhan kalsium saat menyusui, yaitu yoghurt, keju, serta jus jeruk dan tofu yang diperkaya kalsium. 

Catatan

Ingatlah, kebutuhan kalsium ibu menyusui harus dipenuhi dengan baik untuk mencegah serangan osteoporosis di masa mendatang. Konsultasikan juga dengan dokter jika Anda ingin memenuhinya dari suplemen kalsium.

6 Larangan Ibu Hamil Ini Hanya Mitos

Menanti kehadiran anak selama 9 bulan selama masa kehamilan tentu merupakan masa yang membahagiakan sekaligus mencemaskan. Membahagiakan karena hanya dalam hitungan bulan Anda bisa menjumpai buah hati yang telah lama dinantikan. Di sisi lain, berbagai kecemasan akan selalu menghinggapi karena banyaknya larangan ibu hamil yang bisa sangat berpengaruh pada tumbuh kembang janin.

Namun, jangan terlalu khawatir berlebihan terhadap berbagai larangan ibu hamil. Nyatanya banyak larangan yang ternyata hanya mitos dan tidak berpengaruh terhadap kesehatan calon buah hati Anda. Larangan-larangan tersebut hanya diwariskan turun-menurun tanpa ada alasan yang jelas.

Berikut ini adalah beberapa larangan ibu hamil yang tidak perlu lagi Anda percayai. Pasalnya, larangan-larangan di bawah ini hanya mitos dan tidak terbukti kebenarannnya. Beberapa bahkan terbukti menghasilkan kebenaran yang berbeda.

  • Tidak Boleh Olahraga

Mitos jika ada larangan ibu hamil tidak boleh aktif bergerak dan berolahraga. Ketika usia kandungan telah melewati trimester pertama, ibu hamil justru disarankan untuk aktif bergerak. Beberapa  olahraga, seperti senam dan yoga, pun dianjurkan untuk dilakukan. Penelitian menunjukkan, ibu yang berolahraga pada waktu mengandung cenderung memiliki janin yang lebih cerdas karena keaktifan otak sudah terasah dari dalam perut.

  • Tidak Boleh Berhubungan Seks

Larangan ibu hamil untuk tidak berhubungan seks hanya berlaku jika kandungan Anda termasuk lemah, letak plasenta rendah, ataupun sempat mengalami pendarahan. Tapi jika kandungan Anda baik-baik saja, berhubungan seks selama kehamilan tua justru dianjurkan. Pasalnya, berhubungan seks bisa membuat peningkatan aliran darah di area panggul sehingga memungkinkan posisi janin untuk lebih siap lahir.

  • Tidak Boleh Berendam

Anda mungkin sudah ingin berendam untuk bersantai di bathup, namun tertunda karena masih dalam kondisi hamil. Beredar larangan ibu hamil tidak boleh berendam karena bisa menyebabkan cacat lahir. Faktanya, ibu hamil pun aman untuk berendam asal tidak menggunakan air yang terlalu panas. Asalkan suhu air yang digunakan untuk berendam tidak lebih dari 38 derajat Celsius, Anda bisa aman berendam. Berendam dengan air hangat yang tidak membahayakan justru bisa meredakan nyeri yang umumnya para ibu hamil rasakan.

  • Tidak Boleh Konsumsi Kopi dan Cokelat

Kafein yang ada di kopi dan cokelat memang berpotensi meningkatkan potensi refluks asam lambung pada ibu hamil. Namun, itu akan terjadi apabila konsumsi kafein berlebihan. Jika Anda hanya meminum satu gelas kopi ataupun satu batang cokelat per hari, hal tersebut masih aman untuk kandungan Anda.

  • Tidak boleh Menyantap Makanan Laut

Larangan ibu hamil untuk tidak boleh menyantap makanan laut karena adanya potensi paparan merkuri yang bisa menyebabkan cacat lahir. Namun sebenarnya, makanan laut justru dianjurkan karena memiliki kandungan asam lemak omega-3 yang tinggi. Kandungan tersebut, berdasarkan studi, mampu meningkatkan intelektual anak yang dilahirkan. Ibu yang rajin mengonsumsi makanan laut lebih dari 10 ons tiap minggu selama kehamilan juga terbukti mampu melahirkan anak dengan keterampilan sosial dan motorik yang superior. Anda hanya perlu pintar memilih makanan laut dengan paparan merkuri rendah. Ikan dan udang lebih disarankan, daripada jenis kerang-kerangan.

  • Tidak Boleh Minum Es

Ibu hamil tidak boleh minum air dingin atau air es karena bisa menimbulkan risiko hidrosefalus alias penumpukan cairan di rongga otak? Jawabannya, larangan ibu hamil yang satu itu hanya mitos! Anda bebas meminum air dingin atau air panas. Yang perlu Anda pertimbangkan hanya jumlah kalori dari minuman yang Anda konsumsi. Baiknya, Anda jangan sering-sering mengonsumsi air dengan kandungan gula tinggi, seperti es krim, jus-jus, ataupun minuman berperasa lainnya. Gula dalam berbagai minuman manis tersebutlah yang bisa meningkatkan risiko hidrosefalus.

***

Tiap larangan ibu hamil yang benar pasti ada alasan ilmiah yang jelas. Jika larangan tersebut hanya karena menurut generasi sebelumnya dan tidak memiliki dasar yang paten, lebih baik Anda tidak perlu mengkhawatirkan dan memercayainya.

Bagaimana Cara Mengatasi ASI Tersumbat?

Setelah melahirkan bayi, seorang ibu akan menjalani fase berikutnya, yaitu fase menyusui. Menyusui merupakan salah satu tantangan yang perlu dihadapi seorang ibu dimana fase tersebut membutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Tantangan lain yang perlu diperhatikan seorang ibu adalah jika ASI tersumbat dan tidak segera diatasi, maka seorang ibu bisa mengalami demam hingga mastitis.

Tanda dan Gejala ASI Tersumbat

Menyusui membutuhkan kekuatan fisik dan mental. Tekanan seperti ASI tersumbat bisa berdampak pada aktivitas sehari-hari seorang ibu dan ketersediaan ASI untuk bayinya. ASI yang tersumbat bisa terjadi karena adanya tanda di bawah ini:

  • Benjolan di dalam payudara (benjolan tersebut juga bisa bergeser).
  • Rasa nyeri dan bengkak di sekitar benjolan.
  • Bintik putih pada bagian puting susu.
  • Ketersediaan ASI menurun.

Jika ASI tersumbat, maka akan menimbulkan gejala berupa mastitis. Mastitis merupakan gangguan yang terjadi ketika menyusui. 1 dari 10 orang mengalami kondisi seperti ini, dan orang yang pernah mengalaminya bisa merasakannya kembali.

ASI yang tersumbat tidak hanya menyebabkan mastitis, namun juga dapat menyebabkan seorang ibu demam dan merasakan sensasi terbakar ketika menyusui atau memerah ASI.

Penyebab ASI Tersumbat

Seorang ibu yang merasakan adanya ASI tersumbat bisa terjadi karena faktor berikut:

  • Memakai bra dengan ukuran yang tidak sesuai.
  • Melewatkan sesi memerah ASI atau menyusui.
  • Menyusui dengan hanya satu sisi payudara.
  • Merokok.
  • Stres.
  • Merasa lelah.
  • Kekurangan nutrisi.
  • Adanya luka pada puting.
  • Pernah mengalami mastitis.

Cara Mengatasi ASI Tersumbat

Jika Anda merupakan seorang ibu yang memasuki tahap menyusui dan menunjukkan tanda bahwa ASInya tersumbat, Anda sebaiknya lakukan cara berikut:

  • Fokus pada payudara yang tersumbat

Salah satu cara yang dapat Anda lakukan adalah fokus pada payudara yang tersumbat, baik ketika menyusui secara langsung maupun memerah ASI. Anda coba keluarkan ASI sebanyak mungkin, karena terkadang sejumlah ASI yang dikeluarkan tidak sesuai karena terhambat.

  • Menghisap di area yang tersumbat

Cara lain untuk mengeluarkan ASI adalah membiarkan bayi menghisap ASI yang tersumbat. Bayi memiliki kekuatan mulut yang kuat untuk menyedot ASI ketika mereka merasa lapar. Hal tersebut dapat mengurangi efek yang terjadi pada payudara.

  • Memijat

Cara lain yang dapat Anda lakukan adalah memijat bagian payudara yang tersumbat, bahkan jika hal tersebut membuat Anda merasa kesakitan. Anda dapat menggunakan tangan atau alat seperti lactation massager. Alat tersebut dapat membantu memperlancar proses pemerahan ASI.

  • Merendam

Anda juga dapat menghangatkan payudara Anda dengan kompres hangat dan terapkan ke bagian payudara yang tersumbat. Meredam payudara di baskom berisi air hangat juga dapat memberikan efek yang sama seperti lactation massager. Anda juga dapat menggunakan air hangat dengan mandi pakai shower.

  • Periksa ke dokter

Jika Anda mengalami mastitis, Anda perlu periksa kondisi payudara Anda ke dokter. Jika mastitis sudah menimbulkan nanah atau abses, maka perlu dioperasi.

Berkonsultasi Dengan Dokter

Jika Anda ingin berkonsultasi dengan dokter tentang ASI, Anda sebaiknya persiapkan hal-hal sebagai berikut:

  • Pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan ke dokter.
  • Gejala yang Anda alami akibat ASI tersumbat.
  • Riwayat mastitis (jika ada).

Selama Anda berkonsultasi dengan dokter, dokter juga akan menanyakan kondisi Anda seperti:

  • Kapan gejala akibat mastitis terjadi?
  • Apakah Anda pernah mengalami mastitis sebelumnya?
  • Apa saja kendala yang Anda alami ketika memerah ASI atau menyusui?

Kesimpulan

Jika ASI tersumbat, Anda bisa terapkan cara-cara yang disebutkan di atas. Namun, jika kondisi payudara memburuk, Anda sebaiknya periksa diri ke dokter untuk penanganan lebih lanjut.