Category: Penyakit

Kanker Payudara Bisa Terjadi Pada Pria, Kenali Penyebab dan Gejalanya

Kanker merupakan penyakit penyebab kematian terbanyak ketiga di dunia setelah penyakit jantung dan stroke. Pada perempuan Indonesia, jenis kanker yang paling banyak terjadi adalah kanker payudara dan kanker serviks. 

Dilihat dari forum kanker di SehatQ, hampir semua pertanyaan terkait dengan kanker payudara. Meski identik pada wanita, kanker payudara juga bisa dialami oleh pria. Sekitar 1 dari setiap 100 pria di Amerika Serikat didiagnosis kanker payudara. 

Wanita di atas 50 tahun berisiko terkena kanker payudara

Mengapa pria bisa terkena kanker payudara?

Baik pria maupun wanita memiliki jaringan payudara yang terdiri dari kelenjar getah bening, jaringan lemak, kelenjar penghasil susu (lobulus), dan saluran yang membawa susu ke puting susu. 

Selama pubertas, wanita mengembangkan lebih banyak jaringan payudara. Karena itulah mereka lebih rentan terkena kanker payudara. 

Tidak jelas apa yang menyebabkan pria mengembangkan kanker payudara. Hanya saja kanker payudara terjadi ketika beberapa sel payudara membelah lebih cepat dari sel yang sehat. Sel membentuk tumor yang dapat menyebar ke jaringan terdekat, seperti kelenjar getah bening atau bagian tubuh lainnya. 

Jenis kanker payudara yang didiagnosis pada pria sama seperti pada wanita, yaitu:

  • Karsinoma duktal: Hampir semua kasus kanker payudara pria adalah karsinoma duktal. Sel kanker mulai berkembang di saluran susu lalu menyebar ke area lainnya.
  • Karsinoma lobular: Sel kanker dimuliad di kelenjar penghasil susu. Ini merupakan jenis kanker payudara yang jarang terjadi pada pria.
  • Karsinoma duktal in situ (DCIS): Kanker dipicu oleh penyakit payudara, seperti penyakit Paget pada puting.

Faktor risiko

Ada beberapa faktor yang membuat seorang pria lebih rentan terkena kanker payudara:

  • Riwayat keluarga

Sekitar 1 dari 5 pria pengidap kanker payudara memiliki anggota keluarga dengan kondisi yang sama.

  • Mutasi genetik

Mutasi pada gen tertentu, seperti seperti BRCA1 dan BRCA2, meningkatkan risiko kanker payudara. Ini menjelaskan kenapa pria dengan anggota keluarga terkena kanker payudara berisiko terkena lebih tinggi.  

  • Usia

Risiko kanker payudara pada pria meningkat seiring bertambahnya usia. Sebagian besar didiagnosis pada usia 50 hingga 60 tahun.

  • Menjalani pengobatan atau terapi

Pria yang menjalani terapi radiasi pada dada atau perawatan obat yang mengandung hormon estrogen (untuk mengobati kanker prostat) memiliki kemungkinan lebih tinggi terkena kanker payudara.

  • Faktor gaya hidup

Minum 2 atau lebih minuman beralkohol per hari bisa membuat seseorang berpeluang lebih tinggi mengidap kanker payudara. Namun faktor ini harus diteliti lebih lanjut pada pria. 

Kurang olahraga juga dan mengalami kegemukan juga meningkatkan risiko pria terkena penyakit tersebut.

  • Kondisi medis

Sindrom Klinefelter adalah kondisi dimana anak laki-laki memiliki lebih dari satu salinan kromosom X. 

Sindrom Klinefelter menyebabkan testis berkembang secara abnormal, dan meningkatkan produksi hormon wanita (estrogen). Akibatnya mereka lebih rentan terkena kanker payudara.

Penyakit sirosis hati juga dapat menurunkan kadar estrogen pada pria sehingga meningkatkan risiko kanker payudara.

Tanda kanker payudara pada pria

Terkadang pria yang didiagnosis kanker payudara tidak mengalami gejala khusus. Beberapa tanda umum meliputi:

  • Terdapat benjolan, bengkak, atau penebalan di jaringan payudara yang tidak terasa menyakitkan. Karena pria memiliki lebih sedikit jaringan payudara, benjolan akan lebih mudah terasa
  • Perubahan pada kulit di sekitar payudara, seperti kulit berkerut atau lesung pipit pada kulit payudara
  • Perubahan pada puting, seperti kemerahan, bersisik, atau puting yang seperti berputar ke dalam
  • Keluarnya cairan dari puting
  • Nyeri di area puting

Seringkali, gejala di atas juga bukan mengindikasikan kanker payudara tapi menunjukkan kondisi medis lain yang bukan kanker. Jika Anda ragu, Anda bisa bertanya secara anonim di forum kanker SehatQ.

Catatan

Tanyakan masalah kesehatan terkait kanker di forum kanker SehatQ yang memungkinkan Anda berdiskusi terkait hal tersebut dengan dokter berpengalaman. Anda juga bisa chat dokter melalui aplikasi kesehatan SehatQ. Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store.

Tuberous Sclerosis, Tumor Jinak yang Bisa Tumbuh di Seluruh Bagian Tubuh

Tuberous sclerosis adalah penyakit langka yang menyebabkan tumor, atau pertumbuhan di otak dan organ lainnya. Pertumbuhan ini bisa terjadi pada kulit, ginjal, mata, jantung, ataupun paru-paru penderita. 

Namun, Anda tak perlu khawatir, tuberous sclerosis termasuk dalam tumor yang sangat jinak (non-kanker). Tapi apakah penyakit ini dapat diobati atau dihindari? Nah, berikut penjelasannya!

Bagaimana tuberous sclerosis ini muncul?

Tanda pertama tuberous sclerosis dapat terjadi saat seseorang baru lahir. Orang lain mengalami gejala hal ini seiring berjalannya waktu. Beberapa tanda pertama adalah kejang dan bintik-bintik pada kulit. Beberapa penderita mungkin akan mengalami masalah belajar atau kejang yang sulit dikendalikan.

Tuberous sclerosis mempengaruhi setiap  1 dari 6.000 bayi yang baru lahir. gangguan ini terjadi baik pada anak laki-laki ataupun perempuan dan pada orang-orang dari semua rasa tau kelompok tertentu. Jadi, semua orang berpotensi terkena tuberous sclerosis. 

Gejala tuberous sclerosis

Dokter mungkin akan mencurigai tuberous sclerosis jika bayi Anda memiliki kondisi yang disebut jantung rhabdomyomas (tumor jantung yang jinak) saat lahir. Tanda lain pada bayi adalah mengalami kejang, terutama sejenis kejang-kejang disebut kejang infantile. 

Beberapa tanda tuberous sclerosis dapat muncul di kemudian hari di masa kanak-kanak atau bahkan hingga dewasa. Gejalanya termasuk:

  • Bintik putih pada kulit (disebut makula hipopigmentasi) yang bersinar di bawah lampu khusus 
  • Sebuah ruam di wajah (disebut angiofibroma wajah) yang mungkin terlihat seperti jerawat
  • Masalah dengan ginjal (terkait dengan pertumbuhan di ginjal)
  • Area kulit sangat tebal, seringkali terdapat dibagian punggung
  • Tumbuh di bawah atau di sekitar kuku
  • Gigi berlubang
  • Batuk atau sesak napas
  • Cacat mental
  • Keterlambatan perkembangan
  • Gangguan spektrum autism

Namun, gejala ini dapat berbeda-beda pada setiap orang. Beberapa orang mungkin akan mengalami gejala ringan. Mereka memiliki kecerdasan normal dan tidak mengalami kejang. Orang lainnya mungkin memiliki cacat intelektual dan kejang yang sulit dikendalikan. 

Apa penyebab tuberous sclerosis?

Tuberous sclerosis adalah a genetik kondisi. Perubahan (atau mutasi) baik di TSC1 atau TSC2 gen menyebabkan penyakit. Karena sifat genetik, dapat diturunkan dari orang tua ke anaknya, atau diwariskan ketika mereka lahir. 

jika salah satu orang tua menderita tuberous sclerosis, setiap anak yang lahir dari orang tua tersebut memiliki kemungkinan 50% untuk mewarisi penyakit tersebut. Tetapi pada kebanyakan kasus penyakit, tidak ada riwayat keluarga, maka kemungkinan dari mutasi yang menyebabkannya. 

Lalu, dapatkan tuberous sclerosis dicegah atau dihindari?

Hingga saat ini tidak ad acara yang diketahui untuk mencegah atau menghindari tuberous sclerosis. Jika Anda memiliki riwayat penyakit dalam keluarga dan ingin memiliki anak, bicarakan dengan dokter keluarga. Ia dapat merujuk ke konselor genetik atau ahli genetika medis, untuk membantu Anda dan pasangan memutuskan apa yang harus dilakukan. 

Pengobatan tuberous sclerosis

Pada dasarnya tidak ada obat tuberous sclerosis. Tetapi dokter Anda dapat mengobati banyak gejala yang dialami oleh penderita. Meliputi:

  • Obat yang dapat membantu mengontrol beberapa kejang. Beberapa anak mungkin memerlukan pembedahan pada otak mereka untuk membantu mengatasi kejang. 
  • Pertumbuhan kecil di wajah dapat dihilangkan dengan perawatan laser, meskipun cenderung akan muncul kembali.
  • Tumor otak bisa diobati dengan obat.
  • Tumor ginjal sering diobati dengan pembedahan.
  • Jika anak Anda memiliki masalah perkembangan, terapi bisa membantu Anda dan anak. Jika mereka terus memiliki kecacatan intelektual, mereka mungkin memerlukan pendidikan khusus.  

Tuberous sclerosis adalah kondisi penyakit seumur hidup. Banyak orang yang mengalaminya dapat menjalani kehidupan secara normal. Gejala mereka ringan dan atau bisa diobati oleh dokter mereka. Namun, jika gejala lebih parah, penyakit ini dapat berdampak lebih besar pada penderitanya. 

Siapapun yang menderita tuberous sclerosis berisiko lebih tinggi mengalami komplikasi yang berkaitan dengan tumor otak atau ginjal lesi. Itulah mengapa penting untuk menemui dokter Anda secara teratur. Ia dapat membantu memantau gejala Anda dan mendeteksi komplikasi sejak dini.

Bagaimana Mengetahui Penyakit Trombosis Arteri?

Trombosis arteri

Trombosis arteri adalah terjadinya penggumpalan darah di dalam arteri. Arteri adalah pembuluh darah yang mengangkut darah dari jantung ke seluruh tubuh. Meski tidak selalu menampakkan gejala, trombosis arteri dapat menjadi penyebab kekhawatiran. Hal ini karena gumpalan darah berpotensi menyumbat arteri, baik secara parsial maupun total. Aliran darah ke organ – organ vital tubuh pun menjadi terhambat.

Trombosis adalah istilah medis yang merujuk pada proses pembekuan darah di dalam tubuh. Trombosit dan protein di dalam plasma darah bekerja sama untuk mencegah perdarahan berat ketika pembuluh darah mengalami cedera. Pada kondisi normal, tubuh segera melarutkan gumpalan darah ketika cedera pulih. Namun, pada beberapa kasus, gumpalan darah tidak dapat larut dan menyumbat arteri. Gumpalan darah pun dapat terlepas, lalu mengalir bersama aliran darah, dan berakhir di dalam arteri yang memasok darah ke otak, jantung, dan paru-paru. Hal ini meningkatkan risiko penyakit membahayakan, termasuk serangan jantung, stroke atau stroke ringan, dan emboli paru.

Lalu bagaimana mengetahui tentang penyakit trombosis arteri ini? Trombosis arteri tidak menampakkan gejala, hingga arteri tersumbat atau aliran darah ke beberapa bagian tubuh terganggu. Trombosis arteri umumnya tidak menimbulkan gejala sampai gumpalan darah menyumbat atau menghentikan aliran darah ke bagian tubuh tertentu. Gejala kondisi tersebut bisa beragam, tergantung lokasi sumbatan yang terjadi.

  1. Sumbatan pada pembuluh arteri koroner

Trombosis arteri yang menyumbat pembuluh darah arteri koroner akan menyebabkan serangan jantung. Kondisi ini umumnya ditandai dengan beberapa gejala berikut

  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Pusing
  • Pucat
  • Keringat dingin
  • Mual dan muntah
  1. Sumbatan pada pembuluh arteri ke otak

Jika trombosis arteri menyumbat arteri di otak, maka akan terjadi stroke iskemik. Kondisi ini umumnya ditandai dengan beberapa gejala berikut

  • Mati rasa atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh
  • Wajah tampak tidak simetris atau salah satu terlihat lebih turun
  • Bicara pelo, sulit berbicara, atau memahami pembicaraan
  • Sulit mempertahankan keseimbangan
  • Sakit kepala atau pusing
  • Sulit menelan

Terkadang, sumbatan akibat gumpalan darah ini bisa hanya berlangsung sementara. Kondisi ini disebut stroke ringan atau TIA (transient ischemic attack).

  1. Sumbatan pada pembuluh arteri perifer

Kondisi ini umumnya terjadi akibat komplikasi dari penyakit arteri perifer. Pada penyakit arteri perifer, penumpukan plak yang terjadi bisa pecah. Akibatnya, bisa terjadi gumpalan darah. Gumpalan darah yang menyumbat arteri perifer bisa menyebabkan timbulnya keluhan dan gejala, seperti

  • Nyeri tungkai
  • Tungkai tampak pucat, kebiruan, atau terasa dingin
  • Mati rasa atau kelemahan pada tungkai

Setelah mengetahui gejala dan berdasarkan lokasi penyumbatan, Anda bisa saja memiliki kemungkinan untuk menderita

  1. Serangan jantung, gejalanya berupa nyeri dada atau nyeri dari bagian lain di area dada atas, napas pendek, mual, dan pening.
  2. Stroke, gejalanya meliputi mendadak kebingungan, salah satu sisi tubuh terasa lemah atau mati rasa, gangguan penglihatan, dan hilang keseimbangan.
  3. Emboli paru-paru, gejalanya termasuk nyeri dada, batuk berdarah, dan napas mendadak menjadi pendek tanpa sebab yang jelas, dan denyut nadi sangat cepat.

Tidak ada cara untuk mencegah pembekuan darah sepenuhnya. Namun, Anda dapat menurunkan risikonya dengan mengurangi potensi terjadinya aterosklerosis. Anda bisa melakukan beberapa hal ini agar aliran darah pada tubuh tetap lancar.

  1. Menghindari kebiasaan merokok
  2. Menjalani pola makan sehat, dan tidak mengonsumsi makanan berlemak
  3. Berolahraga secara teratur
  4. Mempertahankan berat badan yang ideal
  5. Membatasi konsumsi alkohol

Pencegahan selanjutnya agar terhindar dari penyakit thrombosis arteri jika Anda mempunyai risiko tinggi untuk mengalami terjadinya penggumpalan darah, maka dokter akan memberikan obat-obatan berikut ini. 

  1. Obat golongan statin untuk kadar kolesterol yang tinggi
  2. Obat-obatan untuk mengontrol tekanan darah yang tinggi
  3. Obat-obatan untuk menurunkan risiko terjadinya penggumpalan darah, seperti antikoagulan, dan antiplatelet

Trombosis arteri merupakan penyakit yang bisa dibilang cukup berbahaya jika tidak ditangani dengan tepat. Lebih baik sebelum terkena penyakit ini, terapkan pola hidup yang sehat karena lebih baik mencegah daripada mengobati.

Penyebab Sakit Pinggang yang Dialami Kaum Muda

penyebab sakit pinggang

Sakit pinggang identik sekali dengan orang yang telah berusia lanjut. Namun, tahukah Anda jika sakit pinggang bisa dialami oleh siapa saja, tak peduli berapa usianya? Sakit pinggang bisa dipicu oleh berbagai kondisi. Oleh karenanya, Anda—yang usianya masih muda—perlu mengetahui berbagai kemungkinan penyebab sakit pinggang.

Hal ini agar bisa meminimalisir kondisi serius yang mungkin terjadi, jika penyebab sakit pinggang diabaikan atau terus dilakukan berulang-ulang. Selain itu, dengan mengetahui kemungkinan penyebab sakit pinggang tersebut, kita bisa jadi lebih waspada dan dapat menghindarinya.

Secara umum, sakit pinggang yang dirasakan para pemuda itu bersifat sementara dan cenderung tidak serius. Nah, di sini perlu diperhatikan, apakah sakit pinggang yang dialami berlangsung dalam waktu yang lama? Jika, ya, bisa jadi penyebabnya adalah sesuatu yang serius.

Biasanya, orang-orang mulai mengalami sakit pinggang pada usia 30-an awal. Risiko sakit pinggang terus bertambah seiring bertambahnya usia. Ada beberapa faktor yang menyebabkan sakit pinggang bisa semakin parah dan berisiko bagi seseorang, seperti:

  • Kelebihan berat badan
  • Sering mengangkat benda-benda berat
  • Terlalu lama duduk

Paling sederhana, sakit punggung biasanya terjadi karena ketegangan otot atau cedera ringan ketika mengangkat beban berat. Selain itu, kejang otot hingga patah tulang belakang juga bisa jadi penyebabnya.

Tak hanya ini, ada beberapa kegiatan yang bisa menyebabkan sakit pinggang seperti mengangkat sesuatu dengan postur yang salah, mengangkat sesuatu yang terlalu berat, dan membuat gerakan di punggung secara tiba-tiba.

Melanjutkan pembahasan mengenai kondisi medis serius yang menjadi penyebab sakit pinggang, berikut beberapa keadaan yang mungkin perlu diwaspadai:

  • Hernia Nukleus Pulposus (HNP)

Hernia Nukleus Pulposus (HNP) terjadi karena bantalan ruas tulang belakang bergeser dan menekan saraf tulang belakang. HNP ini dikenal juga sebagai saraf terjepit. HNP bisa menyebabkan nyeri pada bagian pinggang, punggung, hingga leher—tergantung dari lokasi terjadinya HNP.

Saraf terjepit ini biasanya menimbulkan gejala, mulai dari nyeri seperti tertusuk di area bokong hingga ke tungkai kaki, kesemutan atau lemah otot di tungkai, hingga keterbatasan gerak—utamanya yang berkaitan dengan area sekitar pinggang.

  • Stenosis tulang belakang

Stenosis tulang belakang adalah ketika bantalan tulang belakang menyempit, menekan sumsum tulang belakang, dan saraf tulang belakang. Kondisi stenosis tulang belakang paling sering disebabkan oleh degenerasi disc atau bantalan antara vertebra. Hasilnya adalah kompresi akar saraf atau sumsum tulang belakang dengan taji tulang atau jaringan luna.

Tekanan pada saraf tulang belakang ini menyebabkan gejala seperti pinggang mati rasa, kram, dan pada beberapa kasus orang dengan stenosis tulang belakang tidak bisa berjalan atau memburuk ketika berjalan.

  • Kondisi lengkungan tulang belakang yang tidak normal

Tulang belakang memiliki bentuk lengkung yang unik untuk bisa menopang beban tubuh. Adanya kelengkungan tulang belakang yang tidak normal bisa menyebabkan sakit pinggang. Kelainan tulang belakang seperti skoliosis, kifosis, dan lordosis bisa menyebabkan sakit pinggang.

Namun, ini adalah kondisi bawaan yang biasanya pertama kali didiagnosis dari anak-anak atau remaja. Kelengkungan abnormal menyebabkan rasa sakit dan postur tubuh yang buruk karena menempatkan tekanan pada otot, tendon, ligamen dan vertebra.

**

Masa atau usia muda ini menjadi pertaruhan atas kondisi kesehatan Anda kelak di masa tua. Termasuk diantaranya kondisi tulang belakang, termasuk pinggang, bisa dipengaruhi oleh apa yang Anda lakukan di usia muda.

Jika pada saat muda Anda sering duduk dengan posisi tidak ideal, misalnya, tentu akan terjadi sesuatu di tulang belakang Anda. Hal ini termasuk juga dengan gaya hidup yang buruk. Gaya hidup buruk bisa menjadi penyebab sakit pinggang, baik yang dirasakan saat ini maupun nanti.

Apakah Anda jarang berolahraga? Jika, ya, segera ubah kebiasaan tersebut. Sebab jarang berolahraga membuat otot dan kondisi tubuh Anda kaku. Apabila terus dibiarkan, bukan tidak mungkin ini akan menjadi penyebab sakit pinggang.

Anal Swab Dianggap Lebih Unggul Mendeteksi Covid-19. Benarkah?

Anal swab atau rectal swab merupakan salah satu opsi metode pendeteksi infeksi virus Covid-19. Anal swab yang dilakukan berfungsi untuk mendapat sampel uji guna mendeteksi virus yang terdapat dalam sistem gastrointestinal melalui anus. Metode ini bersifat non-invasif atau dilakukan tanpa pembedahan. Selain itu, terdapat beberapa klaim yang mengatakan bahwa anal swab lebih efektif digunakan dalam mendeteksi Covid-19 dibandingkan berbagai metode lainnya. Benarkah pernyataan tersebut? 

Anal swab adalah prosedur memasukkan alat swab sepanjang ke dalam rektum atau anus pasien

Klaim keunggulan anal swab

Covid-19 yang telah menjadi pandemi dunia dan berlangsung selama satu tahun membuat inovasi pengecekannya semakin berkembang. Kemunculan anal swab diklaim lebih akurat dalam mendeteksi Covid-19 menurut Li Tongzeng selaku wakil direktur departemen infeksi dan penyakit pernapasan dari rumah sakit Youan Beijing. Pernyataan tersebut dilandasi dengan kecenderungan jejak Covid-19 yang bertahan lebih lama di anus serta feses daripada sampel yang diambil dari nasofaring. Berbagai penelitian mengenai hal tersebut telah dilakukan dan dimuat dalam Journal of Infection. Hasil PCR pada feses bertahan positif dan lebih lama dibandingkan swab nasofaring (sekitar 4-11 hari positif lebih lama setelah swab nasofaring negatif). Meski demikian, hingga saat ini belum banyak penelitian yang mendukung prosedur anal swab sebagai metode pemeriksaan Covid-19 yang utama. 

Cara kerja anal swab

Hingga saat ini, anal swab sendiri baru digunakan di Tiongkok. Anal swab dilakukan dengan cara memasukkan alat swab sejauh 2,5 hingga 5 sentimeter ke dalam rektum atau dubur. Meski dianggap lebih efektif, tes anal swab sendiri jauh lebih tidak nyaman diterapkan ketimbang swab nasofaring. Oleh karena itu, metode anal swab masih kurang populer dibandingkan dengan swab hidung dan tenggorokan. Metode ini hingga saat ini hanya dilakukan pada pada orang-orang yang tinggal di daerah karantina Covid-19 utama di Shanghai. 

Berbagai metode pengecekan lainnya

Sebelum muncul inovasi anal swab, terdapat beberapa metode yang muncul dan digunakan untuk mendeteksi keberadaan virus Covid-19 dalam tubuh. Berikut ini merupakan berbagai metode pengecekan tersebut. 

  1. Rapid test

Rapid test merupakan metode untuk mendeteksi antibodi yang diproduksi tubuh untuk melawan virus Covid-19. Cara melakukan tes ini adalah dengan mengambil sampel darah menggunakan jarum melalui jari pasien. Sayangnya, rapid tes memiliki tingkat keakuratan yang sangat rendah dalam mengidentifikasi Covid-19 sehingga WHO tidak menyarankan untuk menjadikan metode ini sebagai sarana diagnosis. Rapid test hanya disarankan untuk digunakan sebagai penelitian atau pemeriksaan epidemiologi. 

  1. Swab antigen (rapid test antigen)

Swab antigen merupakan rapid test untuk mendeteksi antigen atau protein yang membentuk badan virus penyebab Covid-19. Metode ini tentu lebih efektif jika dibandingkan dengan rapid test biasa. Sayangnya, kelemahan dari swab antigen adalah hanya akurat dilakukan pada pasien yang memiliki jumlah virus tinggi di tubuhnya. 

  1. Swab PCR

Metode ini masih paling populer dan digunakan sebagai tes utama. Pemeriksaan swab menggunakan metode PCR dilakukan dengan mengambil sampel lendir dari dalam hidung dan tenggorokan seseorang. Pemeriksaan setelahnya membutuhkan waktu beberapa jam hingga beberapa hari untuk mendapatkan hasilnya. Swab PCR dapat mendeteksi langsung keberadaan virus Covid-19 di tubuh dan bukan melalui ada tidaknya antibodi terhadap virus tersebut. 

Penelitian penggunaan anal swab belum melibatkan banyak subjek sehingga kesimpulan secara lebih akurat pun masih dipertanyakan. Hingga kini, Tiongkok masih menggunakan metode anal swab sebagai pelengkap saja dan belum dijadikan sebagai tes pemeriksaan Covid-19 yang utama. Maksudnya adalah pasien yang menjalani tes anal swab tetap perlu dan diharuskan menjalani swab hidung dan tenggorokan. Apabila Anda masih memiliki pertanyaan seputar anak swab, tanyakan langsung pada dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh aplikasi SehatQ sekarang juga di App Store atau Google Play. 

Proctalgia Fugax, Kondisi yang Menyebabkan Nyeri pada Saluran Anus

Proctalgia fugax adalah rasa nyeri pada dubur yang terjadi secara tiba-tiba dan tidak memiliki penyebab yang spesifik. Rasa nyeri biasanya disebabkan oleh adanya kejang otot hebat di dalam atau sekitar saluran anus. 

Siapapun bisa mengalami proctalgia fugax, namun kondisi ini jarang ditemui bagi anak yang belum mengalami pubertas. Jika dibandingkan dengan gender, wanita lebih sering mengalami proctalgia fugax dibandingkan dengan pria.

Gejala dan Tanda Proctalgia Fugax

Gejala proctalgia fugax pada tubuh adalah kejang otot di dalam atau di sekitar area rektum bawah serta di dalam atau di sekitar anus. Nyeri atau kejang terjadi secara tiba-tiba tanpa peringatan. Lama rasa sakit bagi tiap penderita dapat berbeda-beda, mulai dari beberapa detik saja atau bertahan lama hingga 30 menit. Kondisi ini dapat membuat penderita tidak dapat beraktivitas hingga rasa sakit menghilang.

Penderita umumnya tidak mengalami keluhan apapun sebelum nyeri dirasakan. Rasa nyeri proctalgia fugax biasanya lebih sering terjadi malam hari dibandingkan siang hari serta rasa sakit akan berhenti dengan sendirinya.

Penyebab Proctalgia Fugax

Belum diketahui dengan pasti penyebab spesifik dari proctalgia fugax. Namun, kondisi ini umumnya terjadi karena adanya ketegangan atau mengencangnya otot sfingter ani. Otot ini berfungsi untuk mengatur buang air besar.

Meskipun terjadi secara tiba-tiba, terdapat beberapa hal yang memicu terjadinya kondisi ini, yaitu:

  • Aktivitas seksual
  • Haid
  • Sembelit
  • Buang air besar
  • Stres

Terlepas dari beberapa pemicu diatas, tidak jarang proctalgia fugax juga terjadi tanpa ada pemicunya.

Diagnosis Proctalgia Fugax

Proctalgia fugax biasanya didiagnosis setelah kemungkinan penyebab lain dari nyeri anus seperti wasir, abses anus, dan anus robek disingkirkan. Hal ini dikarenakan proctalgia fugax memiliki gejala yang mirip dengan penyakit anus lainnya.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh dan mengajukan pertanyaan terkait keparahan nyeri, durasi dan lainnya untuk mengeliminasi kondisi lain yang mungkin terjadi. Pemeriksaan fisik yang mungkin dilakukan oleh dokter adalah tes darah dan tes endoskopi untuk melihat kondisi lapisan usus.

Mengobati Proctalgia Fugax

Proctalgia fugax umumnya tidak menimbulkan kondisi yang serius pada tubuh selain rasa nyeri. Untuk meredakan rasa sakit, pengobatan disesuaikan dengan kondisi penderita. Hal ini dikarenakan proctalgia fugax tidak memiliki penyebab khusus, sehingga pengobatan akan disesuaikan dengan pemicu yang telah diidentifikasi. Beberapa pengobatan yang biasanya diberikan dokter untuk penderita proctalgia fugax adalah:

  • Diltiazem oral, diberikan untuk mengobati tekanan darah tinggi
  • Gliseril nitrat topikal. diberikan untuk menghilangkan rasa sakit
  • Nerve blocks, zat yang diberikan untuk mematikan saraf
  • Obat penenang otot

Penderita juga akan disarankan untuk mandi atau merendam tubuh dengan air hangat untuk membuat ketegangan pada anus menjadi lebih rileks sehingga dapat meredakan rasa nyeri. 

Jika diagnosis terjadinya proctalgia fugax adalah stres, dokter menyarankan penderita untuk melakukan konseling sebagai terapi pengobatan.

Selain itu, terdapat beberapa pengobatan alami yang dapat dicoba untuk menghilangkan rasa sakit, yaitu:

  • Bubuk nabati alami

Mengkonsumsi bubuk ini dapat membantu menghasilkan gerakan usus besar yang membantu meregangkan otot dan mencegah kejang.

  • Latihan otot panggul:

Jika Anda menyadari bahwa otot sedang mengalami kejang, Anda dapat melatih otot untuk rileks dengan melakukan latihan khusus otot panggul.

  • Mengkonsumsi makanan yang kaya akan kalium

Kekurangan kalium dianggap terkait dengan proctalgia fugax. Penderita dapat mengkonsumsi makanan yang mengandung kalium seperti pisang, kismis, dan alpukat.

Kapan Harus Berkonsultasi ke Dokter?

Jika Anda mengalami nyeri pada anus dalam bentuk apa pun, segera konsultasikan kondisi ini pada dokter. Nyeri pada anus dapat menjadi gejala penyakit atau kondisi serius yang perlu segera ditangani. 

Apabila tidak ditemukan kondisi yang menyebabkan rasa nyeri pada anus dan Anda didiagnosis proctalgia fugax, Anda dapat melakukan perawatan sesuai anjuran dokter sehingga bisa meredakan rasa nyeri.

Tak Perlu Bingung, Begini Alur Pelayanan Vaksinasi Covid-19

Sebagai upaya mengatasi penyebaran virus corona, pemerintah Indonesia melakukan program pemberian vaksin bagi masyarakat. Jika Anda terdaftar sebagai calon penerima vaksin, sebaiknya pahami dulu alur pelayanan vaksinasi Covid-19.

Untuk bisa mendapatkan vaksin, pastikan Anda sudah terdaftar sebagai calon penerima. Lakukan pengecekan melalui situs pedulilindungi.id untuk mengetahui apakah nama Anda sudah terdaftar atau tidak.

Memahami alur pelayanan vaksinasi Covid-19

Secara keseluruhan, alur pelayanan vaksinasi Covid-19 dilakukan melalui empat alur meja. Di setiap meja, ada prosedur tertentu yang perlu Anda lalui. Berikut ini penjelasan mengenai alurnya:

  • Meja 1: Pendaftaran dan verifikasi

Di meja 1, petugas akan memanggil Anda sesuai dengan nomor urut kedatangan. Anda akan diminta untuk memperlihatkan KTP dan juga tiket elektronik atau e-ticket dari hasil registrasi. Dokumen ini diperlukan untuk proses verifikasi.

Kemudian, verifikasi dilakukan langsung melalui aplikasi Pcare Vaksinasi atau dilakukan secara manual. Verikasi ini didasarkan pada data Anda sebagai calon penerima yang tercantum dalam aplikasi tersebut.

Nantinya, data Anda pada aplikasi Pcare Vaksinasi akan disiapkan dan diunduh, kemudian dicetak atau di-print.

  • Meja 2: Pemeriksaan kesehatan

Pada meja 2, Anda akan dilayani oleh petugas kesehatan. Petugas kesehatan akan melihat kondisi kesehatan Anda serta melakukan pemeriksaan fisik sederhana. Pemeriksaan ini berupa pemeriksaan suhu tubuh dan tekanan darah.

Jika Anda memiliki riwayat terkena Covid-19 maka vaksinasi tidak akan diberikan. Selain itu, vaksinasi juga tidak diberikan bagi wanita hamil dan menyusui serta bagi peserta yang berusia di bawah 18 tahun.

Hasil dari pemeriksaan ini akan dimasukkan ke aplikasi Pcare Vaksinasi oleh petugas kesehatan. Nantinya, berdasarkan data yang dimasukkan, aplikasi akan menunjukkan layak atau tidaknya pemberian vaksinasi.

Apabila suhu tubuh Anda melebihi 37,5 derajat celcius, pemberian vaksin akan ditunda. Anda akan mendapatkan notifikasi melalui SMS untuk menentukan jadwal baru pemberian vaksin.

  • Meja 3: Vaksinasi

Meja 3 adalah bagian penerimaan vaksin dalam alur pelayanan vaksinasi Covid-19. Di sini, Anda akan diminta untuk duduk dalam posisi yang nyaman. Kemudian, petugas akan mencatat jam dan tanggal dibukanya vaksin pada label vial vaksin.

Vaksinasi akan diberikan oleh petugas kepada Anda dengan cara yang aman. Petugas nantinya akan mencatat nama, NIK, dan nomor vaksin Anda di memo.

Memo itu harus Anda pegang karena harus Anda bawa ketika lanjut ke meja 4 nantinya. Anda akan diminta untuk ke meja 4 setelah vaksinasi selesai, dan menunggu selama kurang lebih 30 menit.

  • Meja 4: Pencatatan data peserta

Di sini, Anda perlu memberikan memo yang sudah didapatkan dari meja 3. Berdasarkan memo tersebut, petugas akan memasukkan data jenis vaksin dan nomor batch vaksin Anda ke aplikasi Pcare Vaksinasi.

Setelah itu, petugas akan memberikan kartu vaksinasi kepada Anda. Pemberian kartu ini dapat berupa manual maupun melalui elektronik. Kemudian, Anda juga akan diberikan tanda khusus yang menunjukkan bahwa Anda sudah menerima vaksinasi.

Nantinya, kartu yang Anda dapatkan akan ditandatangani oleh pihak petugas kemudian diberikan stampel. Lalu, Anda akan diminta untuk menunggu di ruang observasi selama 30 menit untuk diberikan penyuluhan tentang vaksinasi.

Itulah alur pelayanan vaksinasi Covid-19 yang perlu Anda ketahui. Jiak Anda terdaftar sebagai calon penerima vaksin, pahami dulu alur-alur ini agar proses pemberian vaksin berjalan dengan lancar.

Bagaimana Cara Mengatasi Katarak Subkapsular Posterior?

Katarak adalah penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di seluruh dunia. Jadi, Anda diharapkan untuk mengidentifikasi faktor risiko untuk perkembangan dan perkembangbiakan katarak. Jika Anda merasa mengalami gejala atau tanda-tanda katarak, disarankan untuk segera mengunjungi dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Pasalnya, katarak yang tidak diobati dapat membuat Anda kehilangan penglihatan. Katarak sendiri terdiri dari tiga jenis, di mana salah satu di antaranya adalah katarak subkapsular posterior. Jenis katarak yang seperti apakah itu dan bagaimana cara mengatasinya? Berikut penjelasannya!

Apa itu katarak subkapsular posterior?

Jenis katarak ini dimulai sebagai area buram atau keruh kecil di “posterior” atau permukaan belakang lensa. Disebut subcapsular karena bentuknya di bawah kapsul lensa, yang merupakan ‘kantung’ kecil, atau membran, yang membungkus lensa dan menahannya di tempatnya.

Katarak subcapsular dapat mengganggu Anda saat membaca dan menciptakan efek silau di sekitar cahaya. Orang yang menggunakan steroid, atau menderita diabetes, rabun jauh yang ekstrem, dan atau retinitis pigmentosa dapat mengembangkan jenis katarak ini. Katarak subcapsular dapat berkembang dengan cepat dan gejalanya dapat terlihat dalam beberapa bulan.

Dua jenis katarak lainnya adalah katarak kortikal, yaitu katarak yang mengacu pada kekeruhan putih, yang berkembang di konteks lensa, yang merupakan tepi perifer (luar) lensa. Sedangkan satu lagi adalah katarak sklerotik nuklit, yaitu jenis katarak yang terkait usia yang paling umum, terutama disebabkan oleh lensa yang mengeras dan menguning seiring waktu.

Gejala katarak subcapsular posterior

Anda harus dapat mengamati gejala dalam beberapa bulan pertama setelah kemunculannya.

  • Setiap lensa mata bersarang di dalam kapsul lensa. Ini adalah selaput atau kantung kecil. Kapsul memastikan lensa tetap pada posisinya.   
  • Daerah yang berdekatan dengan kapsul anterior dan posterior disebut sebagai daerah subcapsular.
  • Area subcapsular posterior mengarah ke belakang/posterior lensa. Oleh karena itu, pengaburan atau kekeruhan pada bagian lensa ini disebut katarak subcapsular posterior.
  • Mirip dengan katarak lainnya, opasitas ini disebabkan oleh pengumpalan serat protein pada lensa.
  • Karena gumpalan padat menghalangi jalan cahaya, Anda mungkin mengalami kesulitan dalam membaca.
  • Anda juga dapat mentolerir sinar matahari yang cemerlang karena jenis katarak ini menyebabkan hamburan cahaya yang lebih besar.
  • Cahaya terang cenderung terlalu menyilaukan atau menggambarkan lingkaran cahaya di sekitarnya, khususnya pada malam hari.
  • Mata Anda terasa nyaman hanya dengan iluminasi redup.

Penyebab katarak subcapsular posterior

  • Usia adalah faktor risiko yang paling umum
  • Paparan radiasi
  • Diabetes melitus atau kondisi sistemik lainnya
  • Penggunaan kortikosteroid yang berlebihan
  • Penderita retinitis pigmentosa, radang intraocular/uveitis
  • Trauma tumpul di mata
  • Rabun jauh yang ekstrim
  • Seseorang yang telah menjalani operasi vitreoretinal

Bagaimana cara mengatasinya?

Kacamata tebal atau bifocal mungkin dapat digunakan untuk sementara waktu. Namun, jangan berharap hal tersebut dapat bertahan lama. Pasalnya, Anda sudah harus menjalani operasi yamg disebut fakoemulsifikasi.

  • Operasi katarak modern atau fakoemulsifikasi melibatkan penggunaan pemeriksaan ultrasonografi
  • Bunyi yang dipancarkan darinya cukup untuk memecah (mengemulsi) katarak
  • Dokter akan menghilangkan semua bagian dengan bantuan tabung yang terpasang pada mesin phaco. Tabung penyedot ini berfungsi sama seperti penyedot debu.
  • Seelah bahan katarak di dalam kapsul menjadi bersih, ahli bedah menempatkan lensa intraocular yang dapat dilipat ke dalam.
  • Seluruh operasi memakan waktu sekitar 10 menit dan paling sering dilakukan dengan anestesi topikal yaitu tanpa injeksi tanpa jahitan operasi katarak.
  • Setelah operasi, Anda akan diberi obat tetes mata selama sekitar 3 minggu.

Jadi, jika Anda merasa gejala katarak subcapsular posterior, maka disarankan untuk langsung mendatangi dokter mata untuk mendapatkan pemeriksaan dan melakukan perawatan lebih lanjut setelahnya.

Bisa Terjadi Pada Bayi, Ini Penyebab Katarak Kongenital

Bisa Terjadi Pada Bayi, Ini Penyebab Katarak Kongenital

Banyak orang mengira bahwa katarak lebih mungkin terjadi pada orang dewasa, khususnya lansia. Akan tetapi, katarak kongenital justru lebih rentan terjadi pada bayi dan anak-anak.

Jenis katarak yang satu ini ditandai dengan gejala yang serupa seperti katarak pada orang dewasa. Pertumbuhan katarak terjadi pada bagian belakang lensa mata, membuat lensa menjadi tampak keruh dan penglihatan mengabur. 

Faktor penyebab katarak kongenital

Ada sejumlah alasan yang menyebabkan bayi dan anak-anak bisa lahir dengan kondisi katarak. Akan tetapi, tidak bisa ditentukan secara pasti apa penyebab utamanya. 

Katarak kongenital dapat terjadi pada bayi baru lahir karena faktor genetik, adanya infeksi, masalah metabolisme, diabetes, trauma, peradangan, dan lain  sebagainya. Selain itu, kondisi ini juga bisa terjadi sebagai efek samping dari pemakaian obat oleh sang ibu ketika mengandung. 

Selain itu, apabila di saat mengandung sang ibu mengalami infeksi, seperti campak atau cacar air, bayi juga lebih rentan lahir dengan kondisi katarak jenis ini.

Terkadang, katarak juga bisa saja baru berkembang beberapa tahun setelah dilahirkan. Artinya, kondisi katarak ini tidak terjadi sejak lahir. Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, seperti trauma atau cedera pada mata. 

Beberapa faktor lainnya yang bisa menyebabkan jenis katarak ini antara lain: 

  • Kelainan genetik yang diwarisi dari orang tua, menyebabkan lensa mata tidak bisa berkembang secara normal
  • Infeksi tertentu yang ditularkan oleh ibu selama kehamilan
  • Kondisi genetik tertentu, termasuk Down Syndrome
  • Cedera pada mata setelah lahir

Tanda-tanda katarak kongenital

Bagaimana cara untuk mengetahui apabila anak menderita katarak kongenital? Untuk melakukannya, Anda perlu mengetahui apa saja gejala katarak jenis ini, agar bisa mengenalinya dengan lebih mudah. 

Pada dasarnya, katarak tidak selalu mudah terlihat. Anak yang sudah lebih besar mungkin bisa mengatakan apabila mereka merasakan gejala tertentu pada penglihatan mereka. Berikut ini beberapa gejalanya:

  • Penglihatan kabur dan berawan
  • Kemampuan penglihatan semakin menurun
  • Cahaya tampak terlalu terang dan menyakitkan mata
  • Penglihatan ganda
  • Warna yang tampak pudar

Gejala-gejala ini mungkin tidak bisa diungkapkan jika katarak terjadi pada bayi. Satu-satunya cara untuk mendeteksi gejala katarak kongenital pada bayi Anda adalah dengan memperhatikan mata bayi. 

Anda bisa melihat adanya bercak atau titik putih keabu-abuan pada pupil mata bayi Anda. Ini adalah tanda utama dari katarak.

Selain itu, Anda juga bisa mendeteksinya dengan memperhatikan gelagat anak Anda. Anak yang menderita katarak akan kesulitan untuk membalas tatapan Anda dengan tepat ketika berbicara. Mata anak Anda juga mungkin bergerak-gerak dengan tidak nyaman terus menerus. 

Mendeteksi katarak kongenital pada anak

Apabila jenis katarak ini dialami oleh bayi Anda tepat setelah lahir, dokter bisa mendeteksinya dengan sangat mudah. Kondisi ini bisa dideteksi baik oleh dokter spesialis mata maupun dokter spesialis anak pada masa pemeriksaan reguler.

Jika Anda mencurigai adanya katarak pada anak Anda, Anda bisa membawa anak untuk diperiksa di dokter spesialis mata. Dokter bisa melakukan pemeriksaan mata mendalam dan menyeluruh, sehingga bisa mendeteksi kondisi katarak anak Anda. 

Berdasarkan hasil pemeriksaan mata, dokter akan melakukan diagnosa serta menganalisa penyebab dan tingkat keparahannya. Kemudian, dokter akan menentukan apa upaya pengobatan yang paling tepat untuk mengatasi katarak kongenital yang dialami oleh anak Anda.

Begini Cara Mengobati Malformasi Anorektal

Atresia ani atau juga dikenal dengan nama malformasi anorektal merupakan kelainan kongenital yang menyebabkan anus tidak terbentuk secara sempurna. Dampak paling utama kondisi ini adalah penderitanya tak dapat mengeluarkan tinja atau kotoran secara normal. Keadaan ini biasanya terjadi akibat gangguan perkembangan saluran cerna pada janin saat usia kehamilan 5 sampai 7 minggu.

Pada saat janin berkembang dalam rahim, setiap organ tubuh janin berkembang pada waktu yang berbeda-beda. Awalnya saluran pencernaan bagian bawah dan saluran kemih berasal dari satu bagian, memasuki minggu ketujuh hingga ke-10 kehamilan rektum dan anus terpisah dari saluran kemih meskipun terkadang proses ini tidak terjadi sebagaimana mestinya.

Cara Mengobati Malformasi Anorektal

Bayi yang tidak memiliki anus sudah pasti tidak dapat buang air besar atau mengonsumsi makanan, bayi yang lahir dengan kondisi ini membutuhkan perawatan segera tepat setelah lahir. Setiap bayi memiliki kelainan tersendiri tergantung jenis yang dialami, kelainan bawaan lain dan kondisi kesehatan anak secara menyeluruh.

Dalam menjalani pengobatan kondisi ini, bayi akan dipindahkan ke NICU guna mendapatkan perawatan intensif. Tepat sebelum operasi, dokter akan memberikan cairan dan nutrisi untuk bayi melalui intravena (IV) ke pembuluh darah. Bayi membutuhkan pembedahan anorektoplasti untuk memperbaiki kondisi kelainan yang muncul.

Operasi ini memindahkan anus ke lokasi yang tepat di dalam otot (stingfer anal) yang fungsinya untuk mengontrol fungsi dari usus. Selain itu, teknik bedah laparoskopi kemungkinan juga akan dilakukan dokter apabila keadaan memungkinkan melakukan teknik tersebut. Keunggulan teknik ini adalah tidak terlalu sakit, sedikit kehilangan darah, penyembuhan cepat dan perawatan cenderung tidak lama.

Penyebab dan Gejala

Kondisi tersebut terjadi karena adanya perkembangan tubuh janin yang tidak sempurna pada bagian saluran pencernaan bagian bawah. Ketika janin berkembang dalam rahim, setiap organ tubuh janin akan berkembang dalam waktu yang berbeda-beda sesuai yang telah dijelaskan sedikit di atas, pada minggu ketujuh hingga ke-10 rektum dan anus harus terpisah dari saluran kemih.

Secara umum penyebab pasti kondisi ini masih belum diketahui, meski demikian biasanya bayi penderita kondisi ini juga memiliki beberapa kelainan lain, seperti sindrom genetik, kelainan kromosom atau kelainan bawaan. Sindrom genetik dan kelainan bawaan ini meliputi beberapa hal berikut ini.

  • VACTERL association, sindrom tulang belakang, dubur, jantung, trakea, ginjal, anggota gerak dan kerongkongan.
  • Kelainan sistem pencernaan, kelainan saluran kemih dan kelainan tulang belakang yang dialami oleh bayi.

Kondisi yang menyebabkan malformasi anorektal ini tentu disertai dengan tanda dan gejala. Dalam kasus yang ada gejala yang muncul berbeda-beda, hal itu tergantung dari jenis malinformasi yang dialami oleh penderita. Berikut beberapa gejala yang dapat diketahui dan sebagai jaga-jaga tim medis yang mengatasi masalah ini.

  • Apabila saluran anus bayi sempit, bayi sangat mungkin akan mengalami kesulitan dalam buang air besar karena ini, selain itu keadaan ini juga dapat menimbulkan sembelit serta rasa tidak nyaman.
  • Jika anus dalam keadaan tertutup membran, tentunya kondisi ini membuat bayi dalam kesulitan karena tidak dapat buang air besar.
  • Apabila rektum tidak terhubung ke anus, kotoran akan keluar dari tubuh bayi melalui fistula dan memasuki saluran kemih, buruknya kondisi ini justru bisa menyebabkan infeksi saluran kemih.
  • Jika rektum tidak terhubung ke anus dan tidak ada fistula, maka bayi tidak akan bisa mengeluarkan kotoran ke luar tubuh dan tidak bisa buang air besar.