Category: Penyakit

Mengenal Heat Stroke dan Pertolongan Pertama pada Penderita

Cuaca yang panas tidak baik bagi kesehatan. Selain berpotensi mengalami dehidrasi, sengatan panas dapat menyebabkan seseorang mengalami heat stroke.

Apa Itu Heat Stroke?

Sengatan panas atau heat stroke adalah kondisi ketika suhu tubuh mengalami peningkatan drastis bahkan mencapai 40 derajat Celsius atau lebih. Kondisi ini terjadi pada seseorang yang merasa sangat panas akibat sengatan matahari di luar batas toleransi tubuh. Kemudian, tubuh akan mengeluarkan keringat untuk mendinginkan diri. Namun, suhu panas ekstrim ditambah udara lembap, maka keringat sulit menguap dan melepaskan panas.

Penyebab Terjadinya Heat Stroke atau Sengatan Panas

Heat stroke dapat terjadi akibat dua penyebab utama, yaitu:

  • Faktor lingkungan

Penyebab heat stroke dari lingkungan seringnya disebut heat stroke klasik atau nonexertional. Seperti yang sudah dijelaskan bahwa tubuh akan mengalami peningkatan suhu karena berada di lingkungan yang terlalu panas dalam waktu yang relatif lama.

Sengatan panas akan lebih rentan dialami oleh orang yang berusia lanjut dan penderita penyakit kronis.

  • Aktivitas fisik saat cuaca panas

Suhu tubuh juga dapat naik secara drastis jika melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Apalagi aktivitas tersebut dilakukan di luar ruangan di tengah cuaca panas.

Risiko akan semakin meningkat jika seseorang mengenakan pakaian yang terlalu tebal atau ketat yang membuat keringat tidak bsia menguap dengan mudah.

  • Faktor usia

Masing-masing orang memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghadapi cuaca panas yang ekstrim. Pada usia yang sangat muda, perkembangan sistem saraf pusat belum sepenuhnya. Akan tetapi pada orang yang berusia lanjut atau di atas 65 tahun, sistem saraf pusat mulai memburuk yang berakibat membuat tubuh tidak mampu menghadapi kondisi perubahan subu tubuh tersebut.

  • Memiliki riwayat kesehatan tertentu

Seseorang yang memiliki riwayat penyakit kronis tertentu seperti jantung, ginjal, obesitas, diabetes, dan sebagainya akan berisiko terkena sengatan panas.

  • Mengkonsumsi obat-obatan tertentu

Kemampuan adaptasi tubuh saat terpapar cuaca panas dapat dipengaruhi oleh obat-obatan tertentu. Anda perlu berhati-hati pada cuaca panas yang ekstrim jika Anda mengkonsumsi obat-obatan seperti pil diet, stimulan, obat kejang, antihistamin, diuretik, obat jantung, ataupun obat tekanan darah. Sebab Anda akan berisiko mengalami heat stroke.

Gejala saat Mengalami Heat Stroke

Saat mengalami heat stroke, seseorang akan mengalami gejala-gejala sebagai berikut:

  • Kulit kering dan memerah
  • Demam tinggi 40 derajat Celsius atau bahkan lebih
  • Terasa pusing
  • Kepala sakit terasa seperti berkunang-kunang
  • Mual dan muntah
  • Suhu tubuh tinggi tetapi tidak berkeringat
  • Jantung berdebar kencang
  • Otot melemah dan terasa kram
  • Mengalami kejang
  • Terjadi perubahan perilaku seperti bicara cadel, disorientasi, kebingungan, serta mudah marah
  • Pernapasan cepat
  • Mengalami pingsan

Segeralah beri pertolongan pertama jika melihat seseorang mengalami gejala seperti yang disebutkan di atas. Pertolongan pertama berguna untuk mencegah komplikasi serius yang dapat mengancam nyawa.

Pertolongan pertama Menangani Heat Stroke

Pertolongan pertama harus segera diberikan pada orang yang terkena sengatan panas. Langkah pertama yang harus Anda lakukan adalah melepas pakaian korban, lalu diikuti dengan upaya pendinginan tubuh, seperti:

  • Mengipas tubuh korban
  • Guyur penderita heat stroke dnegan air dingin
  • Jika penderita berada di luar ruangan, bawalah dia ke tempat yang teduh
  • Semprot dengan air dari selang
  • Kompres dengan es batu atau handuk yang dibasahi air dingin. Tapi, jangan mengompres es batu pada pasien yang lanjut usia, anak-anak, atau penderita dengan penyakit kronis karena dapat membahayakan keselamatannya.
  • Beri air dingin jika kondisi korban sudah memungkinkan. Namun, hindari memberikan minuman yang mengandung gula, alkohol, serta kafein.

Heat stroke merupakan kondisi yang harus segera diberikan penanganan. Jangan ragu untuk memberikan pertolongan pertama jika Anda melihat penderita yang mengalami sengatan panas untuk menurunkan suhu tubuhnya.

Waspada Nyamuk Chikungunya, Bikin Demam Hingga Nyeri Sendi!

Chikungunya merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus melalui perantara nyamuk chikungunya yang terinfeksi. Nyamuk chikungunya sendiri ada dua jenis, yaitu Aedes Aegypti dan Aedes Alboticus.  Jika nyamuk ini menggigit manusia, maka akan muncul beberapa gejala. Sepintas, gejala chikungunya mirip dengan demam berdarah. Bedanya, penyakit chikungunya juga dapat menyebabkan seseorang mengalami nyeri sendi parah hingga tidak bisa bergerak.

Sejarah penyakit chikungunya.

Wabah penyakit chikungunya pertama kali ditemukan di Tanzania Selatan pada tahun 1952. Penyakit ini sebagian besar terjadi di Afrika, Asia, dan anak benua India. Sekitar tahun 2015, wabah ini mulai masuk ke wilayah Amerika. Dikutip dari WHO, nama “chikungunya” berasal dari bahasa Kimakonde, yang artinya “menjadi berkerut”. Istilah ini menggambarkan penampilan bungkuk yang dialami penderita karena nyeri sendi (arthralgia).

Apa yang terjadi pada saya jika digigit oleh nyamuk chikungunya?

Umumnya, Anda akan mengalami demam dan nyeri sendi dalam waktu 3 sampai 7 hari setelah digigit nyamuk chikungunya. Gejala lain yang dapat muncul adalah sakit kepala, mual, ruam di kulit, nyeri otot, bengkak di sekitar sendi, dan tubuh sangat lelah. Kebanyakan orang memang sulit membedakan gejala chikungunya, karena hampir mirip dengan penyakit lain yang ditularkan oleh nyamuk, seperti demam berdarah atau virus Zika.

Dalam banyak kasus, nyeri sendi akibat gigitan nyamuk chikungunya dapat melemahkan penderitanya dengan durasi waktu yang bervariasi. Anda perlu waspada, terutama jika sedang berada di suatu tempat yang baru saja terserang wabah penyakit chikungunya. Faktanya, kedekatan lokasi perkembangbiakan nyamuk dengan tempat tinggal adalah faktor risiko yang siginifikan pada penyakit chikungunya. Oleh sebab itu, segera temui dokter jika Anda merasakan gejala-gejala seperti di atas. 

Bagaimana pengobatan penyakit chikungunya dilakukan?

Seringnya, nyeri sendi akibat gigitan nyamuk chikungunya ini mirip dengan artritis reumatoid, sehingga cukup membuat tim medis kebingungan dalam menentukan diagnosa penyakit. Artritis reumatid merupakan penyakit autoimun yang menyebabkan radang sendi dalam jangka waktu yang lama. Menurut Dr. Adam Dore, seorang rheumatologist di Pittsburgh, gejala chikungunya bisa berkembang dengan cepat, sedangkan artritis reumatid berkembang secara diam-diam. Biasanya, butuh berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan.

Oleh sebab itu, perlu dilakukan tes darah untuk membuat diagnosis yang tepat. Selain tes darah, beberapa pemeriksaan lainnya juga perlu dilakukan untuk mengevaluasi seseorang mengalami artritis reumatoid atau penyakit chikungunya.

  • Pemeriksaan fisik.
  • Riwayat kesehatan atau penyakit.
  • Riwayat perjalanan baru-baru ini.
  • Durasi gejala penyakit muncul.

Menurut para ahli kesehatan, belum ada obat untuk menyembuhkan penyakit ini. Perawatan untuk orang-orang yang terinfeksi bertujuan meringankan gejala-gejala yang dialami.

Waspada gigitan nyamuk chikungunya yang dapat melemahkan sendi.

Biasanya, infeksi virus melalui gigitan nyamuk chikungunya akan menyerang persendian yang lebih besar, seperti lutut. Sebaliknya, artritis reumatid lebih sering menyerang persendian tangan dan kaki. Para ahli juga menyatakan bahwa chikungunya jarang berakibat fatal, namun gejalanya dapat semakin parah dan melumpuhkan.

Umumnya, pasien yang mendapat perawatan dapat pulih dari demam dalam waktu seminggu, tetapi nyeri sendi butuh waktu berbulan-bulan untuk sembuh. Dikutip dari Medical News Today, sebanyak dua puluh persen pasien melaporkan nyeri sendi akibat gigitan nyamuk chikungunya ini dapat terjadi berulang.

Catatan

Mengingat tidak adanya vaksin untuk penyakit infeksi ini, yang dapat Anda lakukan adalah tindakan pencegahan dari gigitan nyamuk chikungunya. Jika Anda bepergian ke wilayah yang memiliki wabah ini, maka kenakan celana dan pakaian lengan panjang. Selain itu, pastikan Anda berada di ruangan yang terdapat AC dan gunakan lotion anti nyamuk saat bepergian ke luar ruangan.

Tirotoksikosis

Tirotoksikosis: Penyakit Tiroid pada Wanita yang Sulit Dikenali

Tirotoksikosis adalah kondisi yang terjadi pada aliran darah dalam tubuh akibat hormon tiroid. Hormon yang dihasilkan kelenjar tiroid memiliki kegunaan untuk mengatur cepat atau lambat metabolisme tubuh manusia dapat bekerja.

Faktor Risiko

Baik pria maupun wanita bisa mengalami tirotoksikosis atau penyakit yang berhubungan dengan kelenjar tiroid, namun wanita memiliki risiko sepuluh kali lebih besar dibandingkan dengan pria.

Gejala

Pada awalnya, seseorang yang mengalami tirotoksikosis ringan tidak menunjukkan suatu gejala. Gejala akibat tirotoksikosis akan muncul ketika tirotoksikosis berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.

Gejala yang dialami seseorang akibat tirotoksikosis bervariasi. Berikut adalah gejala-gejala yang kemungkinan bisa dialami mereka:

  • Merasa lelah.
  • Merasa cemas.
  • Penurunan berat badan.
  • Sulit tidur atau insomnia.
  • Suasana hati yang cenderung berubah.
  • Kulit menjadi tipis.
  • Rambut rontok.
  • Terlalu peka terhadap panas.
  • Tangan terasa gemetaran.
  • Iritasi pada mata.
  • Rasa nyeri pada bagian otot.
  • Detak jantung bergerak secara tidak teratur.
  • Gagal jantung.
  • Aliran darah menstruasi sedikit.
  • Mengeluarkan keringat secara berlebihan.
  • Meningkatnya frekuensi buang air besar.

Penyebab
Pada umumnya, tirotoksikosis disebabkan oleh hipertiroidisme. Hipertiroidisme merupakan kondisi dimana kelenjar tiroid bekerja secara berlebihan. Hal tersebut memicu peningkatan produksi hormon secara berlebihan di dalam tubuh.

Selain hipertiroidisme, berikut adalah beberapa penyebab tirotoksikosis yang bisa terjadi, meskipun jarang terjadi:

  • Asupan hormon tiroid yang berlebihan

Kondisi seperti ini terjadi pada penderita hipertiroidisme yang sedang menjalani perawatan.

  • Peradangan kelenjar tiroid

Seseorang yang mengalami peradangan pada kelenjar tiroid dapat menyebabkan pelepasan hormon tiroid dalam jumlah yang besar pada aliran darah. Peradangan tersebut juga bisa disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, atau obat-obatan tertentu.

  • Obat-obatan

Beberapa obat seperti amiodarone dan lithium dapat meningkatkan produksi hormon secara berlebihan.

  • Penyakit Graves

Penyakit Graves adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh mengira sel-sel kelenjar tiroid sebagai benda asing sehingga diserang antibodi. Kondisi seperti ini bisa terjadi pada orang yang berusia antara 40 sampai 60 tahun. 

  • Nodul pada kelenjar tiroid

Kondisi seperti ini bisa menimbulkan dampak pada seberapa banyak hormon yang akan dihasilkan oleh kelenjar di dalam tubuh.

  • Struma ovarii

Struma ovarii merupakan jenis tumor ovarium yang langka yang dapat menimbulkan hipertiroidisme pada tubuh manusia.

Diagnosis

Jika Anda mengalami tirotoksikosis, Anda dapat konsultasikan masalah tersebut dengan dokter. Dokter dapat membantu Anda dengan melakukan diagnosis. Sebelum melakukan diagnosis, dokter akan menanyakan kondisi yang Anda alami.

Setelah mengetahui kondisi Anda, dokter dapat melakukan diagnosis dengan melakukan pemeriksaan jantung untuk mengetahui seberapa cepat atau lambat detak jantung yang Anda alami. Selain itu, dokter juga dapat merekomendasikan tes darah untuk mengetahui kadar hormon tiroid di dalam tubuh. Tirotoksikosis dapat membuat kadar tiroid menurun.

Pengobatan
Berikut adalah pengobatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi tirotoksikosis:

  • Obat-obatan

Obat-obatan yang dapat Anda gunakan adalah obat antitiroid atau beta blockers.

  • Pembedahan

Pembedahan dilakukan dengan mengangkat kelenjar tiroid. Pembedahan diperlukan oleh pasien dalam keadaan tertentu seperti yang membutuhkan penyembuhan dengan cepat sebelum masa kehamilan.

Pencegahan
Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencegah tirotoksikosis:

  • Mengurangi rasa cemas, gugup, dan stres.
  • Hindari kebiasaan mengkonsumsi kafein.
  • Hindari kebiasaan merokok.

Kesimpulan

Tirotoksikosis merupakan gangguan yang serius pada tubuh dimana masalah tersebut perlu segera ditangani. Ada berbagai gejala yang bisa dialami penderita seperti detak jantung yang bergerak secara tidak teratur. Oleh karena itu, jika Anda ingin mengatasi gangguan seperti ini, Anda bisa lakukan cara-cara yang disebutkan di atas. Untuk informasi lebih lanjut mengenai tirotoksikosis, Anda bisa tanyakan persoalan ini ke dokter.

HIV dan AIDS: Apa Dampaknya Bagi Tubuh?

HIV dan AIDS merupakan penyakit yang dapat membahayakan manusia dimana kedua penyakit tersebut dapat memicu kematian. Kedua penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan, namun dapat dicegah dengan perawatan yang tepat.

HIV

HIV (human immunodeficiency virus) adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dimana gangguan tersebut bisa merusak sistem kekebalan tubuh manusia dan sel CD4 (jenis sel darah putih atau limfosit). Jika sel CD4 hancur, maka tubuh manusia lebih berisiko untuk mengalami berbagai jenis infeksi dan beberapa jenis kanker.

AIDS

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah kondisi yang terjadi akibat infeksi HIV stadium akhir dimana penderitanya mengalami berbagai infeksi oportunistik atau kanker. Masalah tersebut bisa terjadi karena mereka mengalami penurunan pada daya tahan tubuh akibat virus HIV.

Pengaruh HIV dan AIDS

Sampai saat ini, para peneliti belum menemukan obat untuk menyembuhkan HIV atau AIDS. Setiap manusia perlu waspada terhadap kondisi seperti ini. HIV terjadi karena penularan melalui hubungan seksual. Virus tersebut dapat menular ketika pasangan melakukan hubungan intim yang tidak aman (oral, vaginal, atau anal) dengan orang yang mengidap virus, transfusi darah yang terinfeksi HIV, atau berbagai suntikan dengan penderita HIV.

Tidak hanya itu, HIV juga bisa ditularkan dari ibu ke bayi selama menjalani masa kehamilan, proses melahirkan, dan menyusui. Virus tersebut tidak menyebar melalui kontak biasa atau melalui air atau udara.

Gejala

HIV dan AIDS merupakan penyakit yang mematikan. Gejala pada kedua penyakit tersebut bergantung pada fase infeksi yang meliputi:

  1. Tahap 1

Tahap pertama merupakan HIV akut dimana hal tersebut memicu gejala yang serupa dengan flu seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, nyeri sendi, dan sakit tenggorokan. Meskipun gejala-gejala yang dialami adalah gejala ringan, infeksi tetap bisa menyebar ke tubuh. Tahap ini terjadi dalam waktu 2 hingga 4 minggu setelah seseorang mengalami infeksi HIV.

  • Tahap 2

Tahap kedua merupakan infeksi klinis laten (HIV kronis, HIV inaktif, atau dorman). Pada beberapa kasus, hal tersebut menimbulkan pembengkakan kelenjar getah bening, namun tidak menunjukkan gejala khusus atau gejala apapun, dan terkadang masalah tersebut disebut sebagai infeksi HIV asimtomatis.

  • Tahap 3

Tahap ketiga merupakan AIDS dimana tahap tersebut menunjukkan penderita mengalami berbagai infeksi secara berulang. Gejala yang terjadi adalah berkeringat di malam hari, demam, diare kronis, letih, penurunan berat badan, ruam kulit, sesak nafas, bahkan depresi.

HIV merupakan virus yang dapat menyebar melalui hubungan seksual, transfusi darah, berbagi jarum dengan orang yang mengalami AIDS seperti penggunaan obat terlarang atau pembuatan tato. Penyakit seperti ini dapat menular ke siapa saja.

HIV dapat berkembang menjadi AIDS ketika virus di dalam tubuh menghancurkan sel kekebalan tubuh manusia yang disebut sebagai sel T yang kegunaannya untuk melawan berbagai penyakit.

Diagnosis

Untuk mengetahui seseorang terkena HIV atau AIDS, dokter dapat mendiagnosis kondisi mereka melalui beberapa tes yang meliputi:

  • Tes antibodi atau antigen

Tes tersebut dapat dilakukan dengan tes darah.

  • Tes penghitungan sel CD4

Tes ini dilakukan untuk mengetahui jumlah CD4 di dalam tubuh manusia. Jumlah normal CD4 adalah 500 hingga 1.400 sel per milimeter kubik darah.

  • Pemeriksaan viral load

Pemeriksaan tersebut dilakukan dengan menghitung jumlah virus dalam darah manusia.

  • Tes resistensi obat

Tes resistensi obat dilakukan untuk membantu dokter dalam menentukan terapi pada pasien.

Pengobatan

Meskipun HIV dan AIDS tidak dapat disembuhkan, dokter dapat melakukan pengobatan kepada penderita untuk mencegah terjadinya kondisi seperti ini berupa terapi antiretroviral (ARV) seperti NNRTI, Protease Inhibitor (PI), dan Integrase Inhibitor.

Pencegahan

Selain pengobatan, berikut adalah beberapa cara yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah HIV dan AIDS:

  • Membatasi hubungan seksual hanya dengan satu orang saja yang tidak terjangkit HIV.
  • Melakukan seks yang aman dengan menggunakan kondom.
  • Menggunakan obat PEP (post-exposure prophylaxis).

Mengenal Lebih Jauh Berbagai Macam Tumor Marker

Selain melakoni pemeriksaan yang berbasis radiasi, seperti CT Scan, rontgen, dan sebagainya, tumor bisa dideteksi lewat tumor marker. Tumor marker adalah sesuatu yang ada di dalam tubuh manusia sebagai indikator terjadinya tumor.

Tumor marker diproduksi langsung oleh sel tumor atau sel sehat yang merespons adanya tumor. Tumor marker bisa ditemukan dalam darah, urine, atau jaringan lain dalam tubuh manusia.

Tumor marker tidak bersifat universal, artinya jenis tes untuk menentukannya akan sangat bergantung ada banyak faktor, semisal kondisi kesehatan, riwayat keturunan, dan gejala Anda.

Saat ini tumor marker yang paling umum digunakan ialah; alpha- fetoprotein (AFP), carcinoembryonic antigen (CEA), cancer antigen 125 (CA- 125), cancer antigen 153 (CA 153), prostatic acid phosphatase (PAP), dll. Apakah arti dari tumor markers ini, dan bagaimana cara memahaminya? Berikut penjabarannya:

  • Alpha-fetoprotein (AFP)

AFP adalah tumor marker terbaik untuk mendiagnosis kanker hati primer, efektifitas diagnosa dengan AFP mencapai 60% sampai 70%. Jika serum AFP lebih dari 400 units per mililiter (u/ml) selama 4 minggu, atau sekitar 200-400 U/ml selama 8 minggu, maka orang tersebut dapat didiagnosis dengan kanker hati primer. Kadar normal AFP sendiri adalah 0-8 U/ml.

Jadi AFP dapat digunakan untuk menandakan kanker hati, beberapa kasus kanker testis, dan tumor ovarium. AFP adalah tumor marker dengan tingkat sensitivitas lebih dari 80%. Dengan kata lain lebih dari 80% kanker hati primer dapat terdeteksi dengan kadar AFP yang tinggi.

Pengecualian untuk pasien dengan hepatitis kronik dan juga periode aktif hepatitis, karena saat itu juga dapat menyebabkan serum AFP meningkat.

  • Carcinoembryonic Antigen (CEA)

CEA adalah glikoprotein embrio antigen yang ditemukan pada fetus, jaringan dengan kanker usus besar yang dimiliki spektrum tumor marker yang luas. CEA yang positif menunjukkan keganasan tumor yaitu 70% pada kanker usus besar, 60% kanker lambung, 55% kanker pankreas, 50% kanker paru- paru, 40% kanker payudara, 30% kanker ovarium, dan kanker uterus. CEA khusus menargetkan kanker pencernaan, kanker lambung, beberapa kasus kanker payudara, paru- paru dan cholangiokarsinoma.

Sebagian besar serum CEA berada di epitelium tumor saluran pencernaan, jadi biasanya CEA menandakan kanker saluran pencernaan. Sekitar 70% sampai 80% pasien dengan kanker saluran pencernaan memiliki kadar CEA yang tidak normal dalam darah. Kadar normal serum CEA berkisar 0-5 U/ml.  Jadi jika lebih dari 10 U/ml, maka pasien dapat didiagnosis dengan tumor ganas.

  • Cancer Antigen 125 (CA- 125)

CA-125 adalah antigen yang ditemukan pada jaringan epitel kanker ovarium dan merupakan tumor marker yang paling banyak diselidiki karena berhubungan dengan kanker ovarium. Serum ini penting pada pemeriksaan awal dan juga diagnosis, pengobatan, dan perjalanan tumor. Keakuratan serum CA-125 untuk mendeteksi kanker ovarium pada jaringan epithel mencapai 70%.

Jika CA-125 berkisar antara 0-8.5 U/ml bisa saja menandakan kanker ovarium, kanker payudara, kanker pankreas, kanker saluran lambung, dll. Tumor marker ini sangat penting terutama untuk wanita, karena merupakan antigen utama yang diakui secara internasional dapat mendeteksi kanker ovarium.

  • Cancer antigen 15-3 (CA15-3)

CA15-3 dapat digunakn sebagai indikator diagnosa kanker payudara, pemeriksaan setelah operasi dan metastasis. Serum ini 60% sensitif pada kasus kanker payudara awal, 80% pada stadium akhir atau dengan penyebaran.

  • Prostatic Acid Phosphatase (PAP)

Peningkatan kadar PAP dalam darah adalah indikator penting dalam diagnosa stadium kanker prostat, perkembangan tumor, dan perjalan kanker prostat itu sendiri.

Terkecuali pada prostatitis dan hiperplasia prostat jinak yang juga dapat meningkatkan kadar PAP.

  • Antigen Spesifik Prostat (PSA)

Jika kadar serum PSA seseorang berada di angka 0- 6.5 U/ml menandakan adanya kanker prostat. Tumor marker ini khusus untuk mendeteksi prostat pada laki- laki.

***

Itulah beberapa macam tumor marker yang lazim digunakan untuk menentukan indikasi terjadinya tumor atau kanker di dalam tubuh seseorang. Untuk mendapatkan salah satu dari tindakan medis ini, dokter biasanya akan mencari tahu terlebih dahulu keluhan yang dirasakan pasien.

Asidosis, Ketika Cairan Tubuh Mempunyai Banyak Asam

Ketika cairan tubuh Anda mengandung terlalu banyak asam, hal itu dikenal sebagai asidosis. Asidosis terjadi ketika ginjal dan paru-paru Anda tidak dapat menjaga keseimbangan pH tubuh Anda. Banyak proses tubuh menghasilkan asam. Paru-paru dan ginjal Anda biasanya dapat mengimbangi sedikit ketidakseimbangan pH, tetapi masalah dengan organ-organ ini dapat menyebabkan kelebihan asam yang menumpuk di tubuh Anda.

Tingkat keasaman darah Anda diukur dengan menentukan pH-nya. PH yang lebih rendah mengindikasi bahwa darah Anda lebih asam, sedangkan pH yang lebih tinggi mengindikasi bahwa darah Anda lebih basa. Normalnya PH darah Anda harus sekitar 7,4. Menurut American Association for Clinical Chemistry (AACC), asidosis ditandai dengan pH 7,35 atau lebih rendah. Alkalosis ditandai oleh tingkat pH 7,45 atau lebih tinggi. Meskipun kelihatannya kecil, perbedaan angka ini bisa serius. Asidosis dapat menyebabkan banyak masalah kesehatan, dan bahkan dapat mengancam jiwa.

Terdapat dua jenis asidosis, masing-masing dengan berbagai penyebab. Jenis asidosis dikategorikan sebagai asidosis respiratorik atau asidosis metabolik, tergantung pada penyebab utama asidosis Anda.

  • Asidosis respiratorik

Asidosis respiratorik terjadi ketika terdapat terlalu banyak CO2 menumpuk di dalam tubuh Anda. Biasanya, paru-paru mengeluarkan CO2 saat Anda bernapas. Namun, terkadang tubuh Anda tidak bisa menghilangkan cukup CO2, hal ini dapat terjadi karena:

  • Kondisi jalan napas kronis, seperti asma
  • Cedera pada dada
  • Obesitas, yang dapat membuat sulit bernafas
  • Penyalahgunaan obat penenang
  • Terlalu sering menggunakan alkohol
  • Kelemahan otot di dada
  • Masalah dengan sistem saraf
  • Struktur dada cacat

Asidosis metabolik

Asidosis metabolik dimulai di ginjal alih-alih paru-paru. Hal ini terjadi ketika mereka tidak dapat menghilangkan asam yang cukup atau ketika mereka membuang terlalu banyak basa. Terdapat tiga bentuk utama asidosis metabolik:

  • Asidosis diabetes terjadi pada penderita diabetes yang tidak terkontrol dengan baik. Jika tubuh Anda kekurangan insulin yang cukup, keton menumpuk di tubuh Anda dan mengasamkan darah Anda.
  • Asidosis hiperkloremik terjadi akibat hilangnya natrium bikarbonat. Basis ini membantu menjaga darah tetap netral. Diare dan muntah dapat menyebabkan asidosis jenis ini.
  • Asidosis laktat terjadi ketika terlalu banyak asam laktat dalam tubuh Anda. Penyebabnya bisa termasuk penggunaan alkohol kronis, gagal jantung, kanker, kejang, gagal hati, kekurangan oksigen yang berkepanjangan, dan gula darah rendah. Bahkan olahraga yang berkepanjangan dapat menyebabkan penumpukan asam laktat.
  • Asidosis tubulus ginjal terjadi ketika ginjal tidak mampu mengeluarkan asam ke dalam urin, yang menyebabkan darah menjadi asam.

Asidosis respiratorik dan metabolik memiliki banyak gejala. Namun, gejala asidosis bervariasi berdasarkan penyebabnya.

Asidosis respiratorik

Beberapa gejala asidosis respiratorik yang umum termasuk yang berikut:

  • Kelelahan atau ngantuk
  • Mudah lelah
  • Kebingungan
  • Sesak nafas
  • Sakit kepala

Asidosis metabolik

Beberapa gejala asidosis metabolik yang umum termasuk:

  • Pernapasan cepat dan dangkal
  • Kebingungan
  • Kelelahan
  • Sakit kepala
  • Mengantuk
  • Kurang nafsu makan
  • Penyakit kuning
  • Peningkatan denyut jantung
  • Nafas yang berbau buah, yang merupakan tanda asidosis diabetik (ketoasidosis)

Diagnosis dini pada asidosis dapat membuat perbedaan besar dalam pemulihan Anda. Dokter mendiagnosis asidosis dengan serangkaian tes darah. Gas darah arteri melihat kadar oksigen dan karbon dioksida dalam darah Anda, hal ini juga mengungkapkan pH darah Anda. Panel metabolisme dasar memeriksa fungsi ginjal dan keseimbangan pH Anda dan juga mengukur kadar kalsium, protein, gula darah, dan elektrolit Anda. Jika tes ini dilakukan secara bersama, mereka dapat mengidentifikasi berbagai jenis asidosis.

Jika Anda didiagnosis menderita asidosis respiratorik, dokter Anda akan ingin memeriksa kesehatan paru-paru Anda. Hal ini mungkin melibatkan rontgen dada atau tes fungsi paru. Jika Anda diduga memiliki asidosis metabolik, Anda harus memberikan sampel urin. Dokter akan memeriksa pH untuk melihat apakah Anda menghilangkan asam dan basa dengan benar. Tes tambahan mungkin diperlukan untuk menentukan penyebab asidosis Anda.

Anda tidak dapat sepenuhnya mencegah asidosis. Namun, ada beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk menurunkan risiko.

Asidosis respiratorik

  • Ambil obat penenang sesuai resep dan jangan pernah mencampurnya dengan alkohol.
  • Berhenti merokok. Merokok dapat merusak paru-paru Anda dan membuat pernapasan menjadi kurang efektif.
  • Pertahankan berat badan yang sehat. Obesitas dapat membuat Anda sulit bernapas.

Asidosis metabolik

  • Tetap terhidrasi. Minumlah banyak air dan cairan lain.
  • Tetap kontrol diabetes Anda. Jika Anda mengelola kadar gula darah dengan baik, Anda dapat menghindari ketoasidosis.
  • Berhenti minum alkohol karena minum kronis dapat meningkatkan penumpukan asam laktat.

Dokter biasanya perlu tahu apa yang menyebabkan asidosis Anda untuk menentukan cara mengobatinya. Namun, beberapa perawatan dapat digunakan untuk semua jenis asidosis. Misalnya, dokter Anda mungkin memberi Anda natrium bikarbonat (soda kue) untuk meningkatkan pH darah Anda. Ini dapat dilakukan melalui mulut atau infus (IV). Perawatan untuk asidosis jenis lain dapat melibatkan pengobatan penyebabnya.

  • Asidosis respiratorik

Perawatan untuk kondisi ini biasanya dirancang untuk membantu paru-paru Anda. Misalnya, Anda mungkin diberikan obat untuk melebarkan jalan nafas Anda. Anda mungkin juga diberi oksigen atau alat tekanan udara positif terus menerus (CPAP). Perangkat CPAP dapat membantu Anda bernapas jika memiliki jalan napas atau kelemahan otot yang terhambat.

  • Asidosis metabolik

Jenis asidosis metabolik spesifik masing-masing memiliki perawatan sendiri. Orang dengan asidosis hiperkloremik dapat diberikan natrium bikarbonat oral. Asidosis dari gagal ginjal dapat diobati dengan natrium sitrat. Penderita diabetes dengan ketoasidosis menerima cairan IV dan insulin untuk menyeimbangkan pH mereka. Perawatan asidosis laktat mungkin termasuk suplemen bikarbonat, cairan IV, oksigen, atau antibiotik, tergantung pada penyebabnya.

Beberapa orang sepenuhnya pulih dari asidosis. Namun, orang lain mungkin memiliki masalah dengan fungsi organ, gagal pernapasan, dan gagal ginjal. Asidosis yang berat dapat menyebabkan syok atau bahkan kematian. Seberapa baik Anda pulih dari asidosis tergantung pada penyebabnya, selain itu perawatan cepat dan tepat juga sangat mempengaruhi pemulihan Anda.

Edema

Edema adalah kondisi medis dimana seseorang mengalami pembengkakan karena banyaknya cairan yang menumpuk pada jaringan tubuh. Edema bisa disebabkan oleh trauma, proses peradangan, infeksi, kehamilan, obat-obatan, serta kondisi medis lainnya. Edema dapat terjadi di seluruh bagian tubuh manusia, namun lebih sering terjadi di bagian tangan dan kaki.

Jenis-Jenis Edema

Edema dibagi menjadi 2 jenis, antara lain:

  • Edema perifer

Edema perifer biasanya terjadi di bagian kaki manusia, namun juga bisa terjadi di bagian lengan. Hal tersebut dapat memicu gangguan pada sistem peredaran darah, kelenjar getah bening, dan ginjal manusia.

  • Edema pedal

Edema pedal terjadi karena cairan yang mengumpul di bagian kaki manusia. Hal tersebut membuat orang sulit bergerak dan tidak merasakan apa-apa pada bagian kaki. Orang-orang hamil lebih rentan terhadap masalah seperti ini.

Gejala

Gejala edema bergantung pada bagian tubuh mana yang terkena dan jumlah akumulasi cairan yang tertahan di jaringan. Namun, orang-orang yang terkena edema akan mengalami gejala sebagai berikut:

  • Bengkak pada jaringan di bawah kulit.
  • Kulit yang meregang pada bagian yang terkena edema.
  • Cekungan pada kulit (pitting edema) yang terjadi karena kulit manusia mengalami edema yang ditekan selama beberapa detik.
  • Infeksi.
  • Gatal.
  • Bekas luka pada jaringan.
  • Perut membesar.
  • Rasa nyeri yang membatasi ruang gerak lengan.
  • Kaki terasa berat.

Orang-orang yang mengalami edema berat juga akan mengalami gejala yang membahayakan seperti sesak nafas dan nyeri dada.

Penyebab

Edema terjadi akibat cairan yang ada di dalam pembuluh darah keluar dari jaringan. Hal tersebut bisa disebabkan oleh faktor berikut:

  • Mengkonsumsi makanan yang mengandung garam secara berlebihan.
  • Duduk atau berada di satu posisi yang cukup lama.
  • Gejala premenstruasi.
  • Sengatan lebah.
  • Kehamilan.
  • Infeksi kulit.
  • Efek samping obat-obatan seperti obat antinyeri atau obat yang mengandung steroid.

Pada kondisi tertentu, edema juga terjadi karena manusia mengalami penyakit yang serius seperti:

  • Reaksi alergi.
  • Sirosis hati.
  • Gagal jantung.
  • Trauma kepala.
  • Kerusakan pada ginjal.
  • Gangguan atau pembuluh darah vena yang lemah.
  • Gangguan pada sistem pembuluh darah limfatik.
  • Defisiensi atau kekurangan protein yang parah.

Diagnosis

Jika Anda mengalami edema, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan melakukan diagnosis terlebih dahulu. Untuk mengetahui seberapa parah kondisi yang dialami, dokter perlu melakukan pemeriksaan fisik.

Jika perlu, pemeriksaan lain seperti rontgen dada, USG (ultrasonografi), MRI (magnetic resonance imaging), pemeriksaan darah, dan pemeriksaan air seni dapat dilakukan. Kegunaannya untuk menentukan penyebab pasti yang membuat manusia terkena edema.

Pengobatan

Pada dasarnya, edema perlu diobati sesuai dengan penyebabnya. Jika manusia terkena edema akibat reaksi alergi, maka pengobatannya adalah obat antialergi. Jika manusia mengalami edema yang bersifat ringan, maka tidak perlu menggunakan obat, karena dapat hilang sendiri.

Jika kondisinya berat, obat yang dapat digunakan adalah obat diuretik. Obat tersebut dapat mengurangi jumlah cairan di dalam tubuh. Jika manusia terkena edema akibat penggunaan obat, dokter akan menggantikannya dengan obat yang tidak menyebabkan edema.

Pencegahan

Selain menggunakan obat, edema dapat diatasi dengan cara-cara berikut:

  • Menggerakan otot di bagian yang terkena edema supaya membantu memompa kelebihan cairan kembali ke jantung.
  • Meninggikan bagian tubuh yang terkena edema. Posisinya harus lebih tinggi dari jantung selama beberapa kali dalam sehari.
  • Pemijatan dan kompresi dengan menggunakan alat untuk menggerakan cairan akibat edema.
  • Memakai stoking kompresi atau sarung tangan ketika edema mereda untuk mencegah pembengkakan lebih lanjut.

Cara Efektif Atasi Kesemutan Parestesia yang Terus Menyerang

Jika Anda pernah mengalami rasa seperti digelitik, ditusuk-tusuk jarum, kebas atau mati rasa yang umumnya terjadi di bagian tangan dan kaki, kondisi tersebut dalam dunia medis disebut dengan parestesia. Kondisi ini disebabkan oleh adanya tekanan pada saraf-saraf tertentu, seperti ketika Anda menghabiskan waktu terlalu lama duduk dalam posisi kaki ditekuk. Selain karena adanya tekanan, parestesia dapat disebabkan oleh penggunaan obat tertentu, dan juga dapat menjadi efek samping kurangnya asupan vitamin B dalam tubuh.

Pada dasarnya, kondisi parestesia tidaklah berbahaya dan dapat hilang secara perlahan setelah Anda mengubah posisi duduk. Namun, dalam kasus tertentu, parestesia dapat patut untuk diwaspadai. Pasalnya, ia dapat menjadi gejala dari kerusakan saraf yang merupakan komplikasi dari penyakit tertentu, seperti diabetes, stroke, multiple sclerosis, dan carpal tunnel syndrome.

Cara terbaik untuk mengatasi kondisi ini dapat dimulai dengan berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter. Anda dapat melakukan konsultasi jika parestesia tidak juga hilang dalam beberapa hari. Ada pun gejala yang perlu diperhatikan:

  • mengalami kesemutan, kebas, dan juga rasa sakit
  • anggota badan yang mengalami kondisi tersebut akan terasa dingin saat disentuh dan sulit untuk digerakkan
  • anggota badan yang terserang kesemutan akan terasa lemah
  • tidak mampu untuk mengontrol gerakan anggota badan.

Dokter akan merekomendasikan Anda untuk melakukan beberapa tes pemeriksaan fisik, seperti:

  • studi konduksi saraf yang bertujuan untuk mengetahui kecepatan respon saraf terhadap rangsangan
  • Elektromiografi (EMG) yaitu prosedur merekam aktivitas listrik untuk melihat jalannya interaksi otot dengan saraf
  • Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang bertujuan untuk melihat struktur organ dalam tubuh
  • Ultrasound yaitu prosedur yang memiliki tujuan untuk melihat gambaran organ tubuh, khususnya pada area tubuh yang mengalami kondisi parestesia.

Beberapa cara yang dapat Anda lakukan untuk mengatasi parestesia yang tak kunjung hilang, yaitu:

  • melindungi anggota tubuh yang terkena parestesia agar tidak cedera atau terluka. Bagi pasien diabetes yang mengalami parestesia hingga jari dan telapak terasa mati rasa, dapat menggunakan alas kaki atau sepatu yang nyaman, sehingga tidak menimbulkan lecet atau luka. Jika terdapat luka pada kaki dan pasien tidak menyadarinya, khawatir memicu kondisi ulkus diabetik yang hanya dapat diatasi dengan prosedur medis.
  • Melakukan fisioterapi jika disarankan oleh dokter, terutama bagi pasien carpal tunnel syndrome dan stroke. Fisioterapi ini tidak hanya untuk meredakan parestesia, namun juga memulihkan kekuatan dan kemampuan gerak anggota tubuh.
  • Mengontrol asupan makanan dan kadar gula darah.
  • Menerapkan pola hidup sehat dengan asupan gizi yang seimbang.

Faktor Penyebab Adanya Manusia Raksasa di Dunia

Faktanya ada manusia yang tumbuh dengan ukuran tubuh yang tidak normal, entah itu terlalu kecil atau terlalu besar seperti manusia raksasa. Pertumbuhan abnormal ini biasanya disebabkan oleh tumor kelenjar pituitari yang di dasar otak. Pituitari adalah kelenjar yang bertugas untuk mengatur hormon pertumbuhan.

Saat ada tumor yang bertumbuh, maka hormon pertumbuhannya perlu lebih banyak. Selain tumor kelenjar pituitari, penyebab lain dari gigantisme adalah sindrom McCune-Albright, multiple endocrine neoplasia tipe 1, Carney complex, dan neurofibromatosis.

Gejala manusia raksasa

Semakin awal mendeteksi gejalanya maka akan semakin baik. Sebenarnya, gigantisme dapat terlihat secara fisik maupun tidak kasat mata. Berikut ini beberapa gejalanya:

  • Puber yang tertunda
  • Menstruasi tidak teratur
  • Gangguan tidur
  • Mudah merasa lelah
  • Berkeringat berlebih
  • Mudah sakit kepala
  • Ukuran kepala dan bibir besar
  • Jari-jari lebih tebal
  • Rahang dan dahi cenderung menonjol
  • Tangan dan kaki besar

Setidaknya ada 1 dari 1000 orang yang dapat mengalami tumor kelenjar pituitari. Biasanya mereka akan mengalami mutasi genetik secara alami. Khusus untuk tumor di pituitari, tentu yang bermasalah adalah tinggi badan karena kelenjar ini mengatur pertumbuhan manusia.

Komplikasi akibat gigantisme

Ada banyak komplikasi yang mungkin bisa terjadi akibat gigantisme, mengingat organ pada tubuh tumbuh dengan ukuran abnormal, sangat mungkin ada masalah lain dalam tubuh. Seperti jantung, tekanan darah tinggi, hingga diabetes. Hal ini lah yang menyebabkan banyak penderita gigantisme atau manusia raksasa tidak berumur panjang. Mereka mengalami komplikasi seperti masalah ginjal, sulit bernapas, dan lainnya sehingga tidak dapat bertahan.

Mengobati gigantisme biasanya dilakukan dengan operasi kelenjar pituitari. Tindakan medis dengan mengangkat tumor, tekanan pada saraf optik akan berkurang dan kadar hormone pertumbuhan pun tidak akan tumbuh terlalu pesat. Selain dengan operasi, aja juga terapi radiasi untuk menekan pertumbuhan di kelenjar pituitari. Dengan demikian, tumor dapat menyusut dan kadar hormon pertumbuhan akan lebih terkendali.

Waspadai Keracunan Sianida Kronik yang Tidak Disadari

Dampak keracunan sianida sangat cepat dan seringkali sulit untuk diselidiki lebih lanjut dalam pemeriksaan forensik. Namun ternyata, keracunan sianida dapat berlangsung kronik, yaitu terjadi dalam waktu yang lama, dan seringkali tidak disadari. Keracunan sianida kronik memang sangat jarang terjadi, namun ada beberapa profesi yang berisiko untuk mengalami keracunan sianida seperti profesi yang menggunakan garam sianida inorganik dalam pekerjaannya, seperti:

  • Industri pengolahan logam (metalurgi)
  • Industri pembuatan barang plastik
  • Fumigasi (usaha disinfeksi menggunakan bahan kimia)
  • Fotografi
  • Ahli kimia yang bekerja dengan sianida di laboratorium

Selain itu, jika Anda sering menggunakan cat kuku, waspadai penggunaan pembersih cat kuku yang berlebihan, yaitu pembersih cat kuku yang mengandung acetonitrile atau metal sianida. Gejala lain yang dapat ditimbulkan akibat keracunan sianida kronik dapat timbul secara perlahan dan semakin berat seiring bertambahnya waktu.

Gejala awal keracunan sianida:

  • Sakit kepala dan sering merasa pusing
  • Mual dan muntah
  • Vertigo
  • Kulit kelihatan merah terang
  • Pupil mata melebar
  • Kulit terasa lembap
  • Napas lebih dalam dan lambat, disertai dengan denyut jantung lambat dan cepat
  • Kejang

Jika gejala awal tidak ditangani dengan keracunan sianida berlangsung terus, gangguan pada jantung dapat terjadi sehingga menyebabkan denyut jantung yang lambat dan tidak teratur. Bibir, wajah, lengan, dan tungkai dapat tampak kebiruan karena jaringan tidak mendapatkan cukup oksigen. Akhirnya akibat otak kekurangan pasokan oksigen, dapat terjadi penurunan kesadaran hingga koma, dan berakhir pada kematian.

Lalu, apa yang harus dilakukan jika Anda mencurigai keracunan sianida kronik? Tenaga kesehatan akan melakukan pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar methemoglobin, kadar karbon monoksida, serta kadar laktat di dalam darah. Jika terbukti keracunan sianida kronik, tenaga kesehatan akan memberikan penangkal racun yang dapat berupa amil nitrit, natrium tiosulfat, dan hidroksokobalamin. Senyawa tersebut dapat menetralkan kadar sianida dalam tubuh. Semakin cepat keracunan sianida ditangani, maka semakin baik pula hasilnya