Mitos dan Fakta Seputar Daging Putih vs Daging Merah

Daging puih dan merah merupakan pengkategorian jenis daging berdasarkan warnanya ketika masih mentah. Daging merah meliputi daging mamalia seperti kambing, domba, atau sapi, sedangkan daging putih berasal dari ayam, bebek, dan unggas lainnya.

Daging merah kerap dikaitkan dengan berbagai masalah penyakit, termasuk kanker. Tak jarang banyak yang membandingkan profil kesehatan daging putih vs daging merah

Nilai gizi daging putih vs daging merah

Daging merah merupakan sumber protein. Meski kandungan gizinya dapat berbeda tergantung pada jenis daging merah, umumnya satu porsi (100 gram) daging merah giling mentah mengandung:

  • Vtaimin B3 (niacin): 25% dari asupan referensi diet (Recommended Daily Allowance/RDA)
  • Vitamin B12 (cobalamin): 37% dari RDA 
  • Vitamin B6 (pyridoxine): 18% dari RDA
  • Zat besi: 12% dari AKG (angka kecukupan gizi) 
  • Seng (zinc): 32% dari RDA
  • Selenium: 24% dari RDA
  • 176 kalori
  • 20 gram protein
  • 10 gram lemak

Daging merupakan satu-satunya sumber vitamin B12, karena vitamin tersebut tidak terkandung dalam sumber nabati. Selain itu, zat besi yang terkandung pada daging merupakan zat besi heme yang diserap jauh lebih baik oleh tubuh dibandingkan zat besi pada tanaman. 

Selain itu, daging merah yang diberi makan dan dipelihara secara alami lebih kaya akan asam lemak omega-3 dan CLA yang sangat bagus untuk kesehatan jantung.

Sementara itu 1 porsi daging putih (ayam) cincang mengandung:

  • Niacin: 87% dari RDA
  • Vitamin B6: 42% dari RDA
  • Asam pantotenat (vitamin B5): 14% dari RDA
  • Kalium: 10% dari RDA
  • Seng (zinc): 11% dari RDA
  • Selenium: 49% dari RDA
  • 242 kalori
  • 43 gram protein
  • 6 gram lemak

Benarkah daging putih lebih baik daripada daging merah?

Profil nutrisi dari daging putih vs daging merah mungkin membuat Anda lebih memilih daging putih. Ditambah lagi dengan kontroversi daging merah dalam sejarah nutrisi. Karena hal tersebut banyak mitos yang beredar mengenai bahaya konsumsi daging merah.

Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini fakta dan mitos seputar daging putih vs daging merah:

  1. Mitos = Daging merah meningkatkan risiko kanker 

Sebagian besar studi observasi menunjukkan bahwa mengondumsi daging merah dapat meningkatkan risiko kanker, salah satunya kanker kolorektal. Namun sebuah meta-analisis menemukan peningkatan risiko kanker kolokteral sangat rendah, dimana efek yang terlihat sangat lemah untuk pria dan tidak ada efek untuk wanita.

Selain itu, dampak tersebut disebabkan oleh proses pengolahan daging merah. Proses pemanggangan atau pengasapan daging menghasilkan beberapa senyawa berbahaya, salah satunya hidrokarbon polyaromatik (PAH), yang berpotensi kanker.

Oleh karena itu metode memasak merupakan faktor penentu dari keamanan daging itu sendiri.

  1. Mitos = Daging merah meningkatkan risiko penyakit jantung

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daging merah dapat meningkatkan risiko jantung, diabetes, dan masalah kardiovaskular lainnya. Sayangnya belum ada yang dapat menemukan penyebabnya. 

Sebuah tinjauan besar terhadap 20 penelitian menemukan peningkatan risiko tersebut, tapi efek ini hanya terlihat pada daging merah olahan, bukan yang tidak diolah. 

Penelitian lain juga tidak menemukan perbedaan peningkatan risiko pada peserta yang memakan kurang lebih 3,5 sajian daging merah per minggu daripada yang tidak mengonsumsinya sama sekali. 

  1. Mitos = Daging putih lebih rendah lemak

Daging putih seringkali dipromosikan sebagai makanan sehat dengan rendah lemak. Padahal baik daging putih vs daging merah memiliki kandungan lemak yang tak jauh berbeda. Metode modern membuat kandungan lemak pada daging putih, misalnya ayam, menjadi dua kali lipat. 

Menurut Profesor Michael Crawford dari London Metropolitan University, menemukan kandungan lemak pada ayam setara dengan hamburger, dan dua kali lebih banyak dari ayam yang diternakkan pada tahun 1940.

  1. Fakta = Daging putih vs daging merah memiliki risiko kesehatan yang sama

Ada beberapa penyakit yang berasal dari unggas, misalnya flu burung, dan pada daging merah (daging babi) terdapat flu babi. Keduanya juga dapat terkena kontaminasi makanan, penyakit hati, atau risiko kesehatan lainnya.

Selain itu, metode pengolahan daging merah atau putih mempengaruhi kesehatan dan keamanan dari daging itu sendiri. Mengonsumsi daging merah dan putih terlalu banyak dalam jangka panjang juga tidak disarankan, karena meskipun bernutrisi keduanya dapat menyebabkan efek samping. 

Maka dari itu daging putih vs daging merah memiliki risiko kesehatan yang sama.

Catatan

Masih banyak penelitian yang dilakukan untuk membuktikan profil kesehatan dari daging putih vs daging merah. Jika Anda memiliki pertanyaan seputar hal tersebut, tanyakan pada dokter di aplikasi kesehatan SehatQ.

Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store. 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *