Tagged: kehamilan

Mitos Detak Jantung Janin Laki-Laki yang Lebih Lambat

Detak Jantung Janin Laki-laki

Saat pemeriksaan kandungan, banyak orang tua yang akan menanyakan tentang jenis kelamin janinnya sebab penasaran. 

Hal tersebut menjadi normal sebab para orang tua tentu telah membayangkan betapa bahagianya memiliki anak dan ingin tahu lebih cepat tentang jenis kelaminnya. 

Menurut ilmu medis, jenis kelamin janin belum dapat diprediksi sebelum usia 4 bulan kehamilan. Meski demikian, seringkali terdapat pernyataan yang dipercaya masyarakat mengenai detak jantung janin laki-laki yang dianggap lebih lambat daripada perempuan. Mitos atau fakta pernyataan tersebut?  

Hubungan jenis kelamin janin dengan detak jantungnya 

Klaim bahwa detak jantung janin laki-laki lebih lambat telah cukup populer di kalangan masyarakat. Penelitian pun akhirnya dilakukan untuk membuktikan klaim tersebut. 

Pada tahun 2006, penelitian digelar terhadap 477 kehamilan dan hasilnya adalah detak jantung rata-rata janin perempuan 151,7 bpm (denyut nadi per menit) sedangkan laki-laki 154,9 bpm. Detak jantung normal janin sendiri berada pada kisaran 120-160 bpm. 

Penelitian tersebut membuktikan bahwa detak jantung tidak berpengaruh terhadap jenis kelamin janin. Pernyataan tentang detak jantung janin laki-laki lebih lambat merupakan mitos belaka. 

Cara mengetahui jenis kelamin janin secara akurat

Untuk memprediksi jenis kelamin janin, sebaiknya Anda melakukan pengukuran secara akurat dengan mendatangi dokter. Beberapa cara dapat Anda lakukan untuk memprediksi jenis kelamin janin seperti: 

  • USG menjadi cara paling populer yang sering digunakan untuk mengecek perkembangan dan kesehatan bayi. Selain itu, dokter biasanya dapat membantu mengetahui jenis kelamin janin melalui tes USG.
  • Amniosentesis merupakan cara yang lebih akurat dibandingkan USG untuk menebak jenis kelamin janin. Sayangnya, prosedur ini memiliki berbagai risiko terhadap kesehatan ibu hamil dan janin sehingga cukup jarang dilakukan. 
  • Chorionic Villus Sampling (CVS) memiliki tingkat akurasi hampir 100 persen untuk mengecek jenis kelamin janin. Tes ini akan menggunakan sampel jaringan dari plasenta untuk melihat kromosom janin. 
  • Tes genetik dapat dilakukan pada usia kehamilan yang cukup tua dan dapat digunakan untuk mengecek jenis kelamin janin. Akan tetapi, tes ini pun memiliki risiko tersendiri. 

Mitos lain berhubungan dengan jenis kelamin janin 

Mitos-mitos terkait kehamilan yang beredar di masyarakat sangat banyak. Untuk menebak jenis kelamin pun, ternyata mitos yang ada bukan hanya detak jantung laki-laki lebih lambat dibanding perempuan saja. Terdapat berbagai mitos tentang cara menebak jenis kelamin janin lainnya seperti: 

  1. Warna urine 

Mitos menebak jenis kelamin bayi selain dari detak jantung yaitu dari warna urine. Ibu hamil dengan janin laki-laki diyakini memiliki warna urine kuning kusam. Sedangkan ibu hamil dengan janin perempuan memiliki warna urine kuning cerah.  

  1. Posisi perut ibu hamil 

Selain itu, terdapat pula mitos menebak jenis kelamin janin melalui posisi perut ibu hamil. Bentuk perut lebih condong rendah ke depan menunjukkan janin tersebut laki-laki. Sedangkan janin perempun akan membuat posisi perut ibu lebih condong ke atas. 

  1. Rasa mual

Rasa mual pun dikaitkan oleh masyarakat dengan jenis kelamin janin. Mitos meyakini bahwa janin perempuan akan membuat ibu hamil mengalami morning sickness hebat dan berlebihan sedangkan jika mengandung janin laki-laki maka jarang mengalami morning sickness

  1. Makanan yang sering ingin dimakan 

Ibu hamil biasanya sering ingin mengonsumsi makanan tertentu atau ngidam. Kondisi ini pun dikaitkan dengan jenis kelamin janin. Mitos menyebutkan bahwa ibu hamil dengan janin laki-laki lebih ingin makan berbagai jenis makanan pedas, asin, dan gurih. Sedangkan jika membawa janin perempuan maka makanan yang diinginkan lebih condong manis. 

Meski secara ilmiah detak jantung tidak dapat dijadikan indikasi jenis kelamin janin, namun banyak orang masih mempercayai hal tersebut. Pastikan untuk melakukan cek secara medis untuk hasil akurat. 

Selain itu, perlu pemahaman bahwa jenis kelamin janin baik laki-laki atau perempuan tidak menjadi masalah selama ibu hamil menjaga asupan nutrisi dengan baik dan seimbang. 

Apabila Anda masih ingin berkonsultasi lebih lanjut tentang detak jantung janin laki-laki atau seputar masalah kehamilan lainnya, tanyakan langsung secara gratis pada dokter melalui aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Unduh aplikasi SehatQ sekarang juga melalui App Store atau Google Play.  

PPI Seperti Omeprazole untuk Ibu Hamil Apa Risikonya?

PPI Seperti Omeprazole untuk Ibu Hamil Apa Risikonya?

Perawatan untuk penyakit refluks gastroesofagus (GERD) biasanya terdiri dari tiga tahapan. Dua tahapan pertama melibatkan konsumsi obat dan melakukan diet serta mengubah gaya hidup. Tahap ketiga adalah operasi atau tindakan bedah medis, yang hanya akan dilakukan pada kasus GERD yang sangat parah dan melibatkan komplikasi kesehatan. Kebanyakan orang biasanya akan mendapatkan manfaat dari perawatan tahap pertama dengan cara menyesuaikan bagaimana, kapan, dan apa yang mereka konsumsi. Akan tetapi, diet dan penyesuaian gaya hidup saja mungkin tidak akan efektif untuk beberapa orang. 

Dalam kasus ini, dokter akan merekomendasikan obat-obatan seperti omeprazole untuk ibu hamil dan penderita GERD lainnya yang dapat memperlambat atau bahkan menghentikan produksi asam di dalam lambung. Penghambat Pompa Proton (PPI) merupakan salah satu jenis obat yang dapat digunakan untuk mengurangi asam lambung dan meredakan gejala GERD. Obat-obatan lain yang dapat merawat asam lambung berlebih di antaranya adalah penghambat reseptor H2, seperti famotidine dan cimetidine. Akan tetapi, PPI biasanya lebih efektif dibandingkan dengan penghambat reseptor H2 dan dapat meredakan gejala dalam kebanyakan orang yang menderita GERD.

Adakah risiko penggunaan PPI?

Ketika kita membicarakan penggunaan obat, tentu hal yang tidak boleh dilewatkan adalah informasi seputar efek samping dan risiko yang dibawa oleh obat tersebut, terutama apabila penggunaan PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil dilakukan. Faktanya, penggunaan tersebut diperbolehkan asal Anda mendapatkan rekomendasi dan resep dari dokter. Pada umumnya, PPI dianggap aman dan merupakan salah satu obat-obatan yang dapat ditoleransi oleh tubuh dengan mudah. Akan tetapi, penelitian baru-baru ini menyatakan bahwa risiko tertentu mungkin dapat terjadi pada penggunaan PPI jangka panjang. 

Studi yang dilakukan baru-baru ini menemukan bahwa orang-orang yang menggunakan PPI jangka panjang memiliki keberagaman bakteri di dalam usus yang lebih sedikit. Kurangnya keberagaman tersebut akan membuat mereka memiliki risiko yang lebih tinggi dalam menderita infeksi, patah tulang, dan defisiensi vitamin dan mineral. Usus Anda mengandung triliunan bakteri. Meskipun beberapa di antaranya merupakan bakteri yang “jahat”, kebanyakan dari bakteri tersebut tidak berbahaya dan membantu tubuh menjalankan fungsinya, seperti pencernaan dan stabilisasi suasana hati. PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil dapat mengganggu keseimbangan bakteri tersebut setelah beberapa waktu, dan menyebabkan bakteri “jahat”  melebihi bakteri “baik”, yang akan menyebabkan seseorang menjadi sakit. 

Sebagai tambahan, Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA) Amerika Serikat menyatakan bahwa penggunaan PPI resep jangka panjang dapat dihubungkan dengan rendahnya level magnesium. Hal ini dapat menyebabkan kondisi kesehatan jantung yang serius, seperti kejang otot, detak jantung yang tidak teratur, dan kejang. Dalam 25 kasus yang ditinjau oleh FDA, suplementasi magnesium saja tidak meningkatkan level serum magnesium yang rendah. Sebagai hasilnya, penggunaan PPI harus dihentikan. Namun, FDA menekankan bahwa risiko menderita level magnesium yang rendah sangat kecil apabila Anda menggunakan PPI OTC sesuai dengan anjuran atau rekomendasi konsumsi. 

Berbeda dengan PPI resep, PPI OTC dijual dalam dosis yang lebih rendah. Obat tersebut juga biasanya dianjurkan untuk penggunaan atau perawatan selama jangka waktu 2 minggu, dan tidak lebih dari 3 kali dalam satu tahun. Meskipun potensi efek samping penggunaan PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil dan penderita GERD lainnya, PPI biasanya merupakan perawatan yang sangat efektif dalam merawat GERD. Anda dan dokter Anda dapat mendiskusikan potensi risiko penggunaan obat ini dan menentukan apakah penggunaan PPI seperti omeprazole untuk ibu hamil merupakan pilihan yang tepat.