Tak Hanya Pria Dewasa, Anak-anak Juga Bisa Menderita Penyakit Penis

Penyakit pada penis bisa dialami baik oleh anak-anak maupun pria dewasa. Ada juga kondisi yang merupakan bawaan lahir. Beberapa penyakit penis adalah ringan dan tidak perlu dikhawatirkan, namun sebagian lainnya membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin untuk mencegah komplikasi serius.  Berikut ini beberapa masalah pada penis yang bisa terjadi pada anak-anak.

Penyakit penis yang menyebabkan kemandulan
  1. Phimosis dan paraphimosis

Phimosis atau fimosis adalah penyempitan pembukaan kulup sehingga kulup sulit ditarik ke ujung penis. Sedangkan paraphimosis terjadi saat kulup yang ditarik ke mahkota penis tidak bisa dikembalikan ke posisi semula.

Kedua kondisi tersebut umum terjadi pada anak laki-laki, terutama bayi (karena kulupnya masih rapat), dan pria dewasa yang belum disunat. 

Dalam kebanyakan kasus, fimosis yang terjadi pada masa kanak-kanak bisa sembuh dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Pada usia 17 tahun, kulup sudah lebih mengendur sehingga kondisi tersebut bisa ditangani dengan mudah. 

Namun jika sampai remaja mereka tidak bisa menarik kulup, maka dibutuhkan perawatan. Fimosis dan parafimosis yang tidak diobati saat dewasa dapat menyebabkan bekas luka, terganggunya aliran darah di penis sehingga penis bengkak, serta sulit ejakulasi dan nyeri saat buang air kecil.

Perawatan untuk phimosis dan paraphimosis meliputi penggunaan krim steroid atau sunat.

  1. Lesi penis

Lesi penis adalah kondisi dimana jaringan pada penis berubah akibat infeksi atau cedera. Lesi penis dapat terjadi pada semua usia dan merupakan akibat dari sejumlah kondisi. 

Ada 4 jenis lesi yang dibedakan dari penyebabnya, yaitu:

  • Lesi infeksius: Lesi penis yang terjadi pada pria dewasa umumnya disebabkan oleh infeksi virus yang menular, seperti Human papillomavirus virus (HPV). Pada anak-anak, penyakit penis ini lebih sering disebabkan oleh infeksi bakteri dan jamur seperti dermatophytosis (jock itch).
  • Lesi inflamasi: Lesi yang timbul disebabkan oleh dermatitis kontak dan ruam. Bentuk lesi ini tidak menular. 
  • Neoplastik: Lesi penis sebagai tanda pertumbuhan kanker.
  • Lesi traumatik: Disebabkan oleh cedera olahraga atau insiden traumatis lainnya. 

Seseorang yang terkena lesi penis umumnya ditandai dengan luka memar, gatal, nyeri di daerah penis dan skrotum, dan fimosis. Gejala lesi penis akan berbeda-beda tergantung pada bentuk penyakitnya. 

  1. Balanitis

Balanitis adalah meradangnya kelenjar atau kepala penis. Jika kulup ikut meradang, kondisi tersebut disebut balanoposthitis. Gejala balanitis yang paling umum yaitu nyeri penis, bengkak dan gatal, ruam, dan keluarnya cairan berbau busuk dari penis.

Balanitis sering terjadi pada anak-anak atau pria yang belum disunat. Kebersihan area genital yang buruk bisa menyebabkan bakteri, keringan, sisa kotoran, dan sel kulit mati menumpuk di bawah kulup dan menyebabkan peradangan. 

Penyebab lain dari balanitis adalah dermatitis, infeksi, dan bisa juga karena fimosis. 

  1. Kanker penis

Ada lima tipe kanker penis, yaitu karsinoma sel skuamosa, melanoma, kanker sel basal, adeno karsinoma, dan sarkoma. Sekitar 95% kanker penis dimulai di sel skuamosa (karsinoma sel skuamosa). Kanker sel skuamosa memiliki pertumbuhan yang lambat sehingga bisa disembuhkan jika didiagnosis sejak dini. 

Kanker penis lebih sering terjadi pada lansia, dengan gejala yang berkembang sejak usia 55 tahun. Kasus anak yang menderita kanker penis sangatlah jarang, tapi bukan berarti anak-anak tidak bisa terkena penyakit penis tersebut. 

Anak dengan gangguan kekebalan tubuh yang rendah, dalam perawatan setelah transplantasi organ, dan penderita kanker lainnya berisiko terkena kanker penis.

Dibandingkan kanker penis, anak lebih mungkin terkena tumor penis mesenkim.

Catatan

Lakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk memastikan Anda tidak berisiko terkena penyakit penis atau masalah kesehatan lainnya. Anda juga bisa mendiskusikannya melalui chat dokter di aplikasi kesehatan SehatQ. Download aplikasinya sekarang di App Store atau Google Play Store.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *