Tak Perlu Cemas, Ini Penyebab Vagina Basah

Tak Perlu Cemas, Ini Penyebab Vagina Basah

Bagi wanita, menjaga kesehatan vagina adalah salah satu hal yang penting. Sebagian dari Anda mungkin pernah mengalami vagina basah. Ketika hal ini terjadi, banyak orang yang mencemaskannya dan takut akan adanya penyakit tertentu pada vagina.

Akan tetapi, sebenarnya ada banyak faktor yang menyebabkan kelembaban atau basah pada area vagina. Beberapa penyebab tersebut mungkin tidak berbahaya, tapi ada juga faktor penyebab yang terjadi karena adanya kondisi medis tertentu dalam tubuh Anda. 

Cairan yang Memicu Vagina Basah

Sebelum mengetahui penyebab vagina basah, Anda perlu terlebih dahulu mengetahui dari mana kelembaban pada vagina berasal. Umumnya, cairan yang membasahi vagina muncul dari kelenjar bartholin dan leher rahim atau serviks.

Kelenjar bartholin adalah kelenjar kecil berukuran kacang yang terletak di dalam vagina. Kelenjar ini berfungsi untuk melumasi vagina untuk mencegah kekeringan berlebih.

Sementara, serviks adalah leher rahim yang menghasilkan lendir selama siklus menstruasi. Saat masa ovulasi mendekat, serviks akan memproduksi semakin banyak cairan. Lendir ini juga berperan dalam membantu perjalanan sperma menuju sel telur.

Jadi, basahnya vagina Anda bukan disebabkan oleh urin. Adanya cairan dari lendir serviks adalah hal yang wajar dan akan terjadi pada setiap wanita. 

Hal-Hal yang Menyebabkan Vagina Basah

Ada beberapa hal yang membuat vagina menjadi basah, yaitu: 

  • Perubahan hormon

Perubahan hormon bisa terjadi pada wanita yang menjalankan perawatan khusus yang berhubungan dengan penggantian hormon. Secara khusus, hal ini akan dialami oleh wanita yang menjalani terapi untuk menyeimbangkan hormon.

Perawatan sejenis ini akan membuat kadar hormone estrogen dalam tubuh menjadi lebih tinggi, sehingga kelenjar bartholin memproduksi lebih banyak cairan. Cairan yang dihasilkan bisa berwarna bening dan bertekstur licin. 

  • Cairan sehari-hari

Pada dasarnya, vagina yang sehat adalah vagina yang lembab dan tidak kering. Wanita rata-rata menghasilkan sekitar 1-4 mililiter cairan vagina setiap harinya. Namun, jumlah yang dihasilkan pada setiap wanita bisa saja berbeda-beda. 

Kelenjar bartholin dan serviks akan menghasilkan cairan atau lendir dalam jumlah yang berbeda dari waktu ke waktu. Hal ini dipengaruhi oleh siklus ovulasi. Namun, adanya cairan pada dasarnya merupakan hal yang wajar dan justru menandakan kondisi vagina yang sehat. 

  • Infeksi

Walaupun adanya cairan pada vagina adalah kondisi yang wajar, produksi cairan yang berlebih juga bisa saja disebabkan oleh adanya infeksi dalam tubuh Anda. Infeksi bisa menyebabkan rasa basah karena vagina yang basah membantu dalam mengeluarkan bakteri dari saluran vagina. 

Cairan yang keluar dari vagina saat Anda mengalami infeksi akan lebih kental dari biasa, dan berwarna putih kekuningan seperti keju. Vagina Anda mungkin juga akan terasa gatal, terbakar, dan sangat perih serta kering. 

  • Pemakaian alat kontrasepsi

Alat kontrasepsi digunakan untuk mengendalikan kehamilan. Beberapa jenis alat kontrasepsi mungkin bisa menimbulkan efek samping berupa peningkatan cairan dari vagina, menyebabkan vagina basah.

Hal ini bisa terjadi karena obat kontrasepsi mempengaruhi hormon estrogen dalam tubuh wanita. Apabila Anda merasa terganggu dengan hal ini, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mencari alternatif penggunaan alat kontrasepsi lain yang lebih sesuai dengan Anda. 

Vagina basah merupakan kondisi yang wajar dialami oleh wanita setiap harinya. Selama cairan yang dihasilkan masih dalam jumlah wajar dan tidak mengganggu, Anda tidak perlu mengkhawatirkannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *